Oleh: Eka Ummu Hamzah
(Aktivis Dakwah dan Pemerhati Publik)
MediaMuslim.my.id, Opini_ Meski dunia tengah bersuka cita atas kemenangan Spanyol pada Piala Dunia FIFA 2026, entitas Yahudi tidak akan pernah menyerah pada cita-cita mereka ingin menguasai wilayah Palestina. Israel tidak akan pernah memalingkan pandangan untuk menyerang warga Gaza . Mereka akan terus melancarkan aksi brutalnya terhadap Palestina. Dilansir dari berita online, Jum'at 17 Juli 2026 Israel melancarkan serangan udara kepada warga Gaza yang sedang menghadiri pemakaman di Nuseirat, Jalur Gaza Tengah. Serangan ini melukai sekitar 20 orang. Menurut data dari petugas medis, total warga yang syahid pada Jum'at 17 Juli 2026 ada 12 orang dari tempat yang berbeda. (kumparanNews, 18 Juli 2026).
Serangan demi serangan di lancarkan militer Israel kepada saudara muslim Palestina ini menjadi alarm bagi umat muslim seluruh dunia, bahwa umat Islam tidak boleh lalai dan lengah terhadap musuh-musuh Islam, khususnya isreal dan sekutunya Amerika Serikat. Sejak 07 Oktober 2023 hingga saat ini, korban Palestina telah mencapai 73.233 orang syahid dan 173.707 orang terluka.
Tapi malangya, semua kekejian dan kebengisan Israel ini disaksikan oleh mata dunia. Termasuk oleh para pemimpin dunia, khususnya penguasa negeri-negeri Muslim seperti Mesir, Arab Saudi dan lainnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya kecaman dan retorika kosong. Bahkan yang lebih menyakitkan penguasa negeri-negeri Muslim ini justru lebih erat menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika dan Israel.
Solusi Palsu Barat
Sebagaimana yang kita ketahui, masalah Palestina merupakan salah satu konflik politik paling panjang. Ketika Khilafah Islam runtuh di tangan Mustafa Kemal Atta Turk tahun 1924, maka sejak saat itu berakhirlah otoritas politik umat Islam. Wilayah-wilayah kaum muslimin tidak lagi memiliki pelindung yang akan menahan tekanan politik dari kafir penjajah internasional. Para kafir penjajah membagi-bagi wilayah kaum muslimin untuk dikuasai. Palestina sendiri jatuh ke tangan Zionis Yahudi di bawah mandat Inggris yang mendukung penuh berdirinya negara Israel. Maka sejak saat itu tanah Palestina dirampas dan mengusir rakyat Palestina. Pada tahun 1948 Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya dengan menduduki 77% tanah Palestina. Sedangkan, sudah sangat banyak rakyat Palestina yang dibunuh, ditangkap, dibombardir, dilecehkan kehormatannya.
Kebrutalan entitas Yahudi ini tentu mengundang banyak simpati dari dunia dan mengajukan berbagai solusi untuk kedua pihak yang bertikai ini. Usulan klasik adalah two state solution (solusi dua negara). Padahal solusi ini sama saja dengan mengakui keberadaan Israel diatas tanah Palestina. Ada juga perjanjian Oslo tahun 1993 yang sering di anggap sebagai terobosan perdamaian. Akan tetapi, hasil nyata dari Oslo justru merugikan Palestina. Otoritas Palestina dibentuk dengan kewenangan terbatas, tanpa kontrol atas perbatasan, keamanan, dan sumber daya alam. Wilayah Palestina terfragmentasi menjadi wilayah-wilayah terpisah, sementara pemukiman Yahudi terus berkembang. Di era modern ada Board of Peach (BOP) atas inisiasi dari Donal Trump, dengan menggiring negara-negara lain dengan isu yang lebih soft yaitu rekonstruksi Gaza sebagai inisiatif perdamaian global. Namun, lagi-lagi inisiatif seperti sama seperti sebelumnya, hanya menguntungkan Yahudi Israel.
Sungguh upaya-upaya yang ditawarkan oleh kafir Barat untuk perdamaian dan kebebasan Palestina hanyalah palsu. Hal itu hanyalah topeng untuk menutupi kejahatan dan cita-cita mereka untuk menguasai negeri muslim.
Jalan Hakiki Penyelesaian Palestina.
Harus ditegaskan bahwa akar masalah Palestina adalah penjajahan oleh Zionis Israel yang didukung oleh negara-negara kafir Barat, khususnya Amerika dan Inggris. Maka tidak ada cara lain untuk menghadapi kafir yang menjajah wilayah kaum muslimin selain diusir. Dengan apa? Dengan jihad dan Khilafah.
Kenapa harus jihad fi Sabilillah? Jihad merupakan salah satu dari syariat Islam . Jihad adalah peperangan melawan orang kafir dalam menegakkan agama Allah SWT. Ketika diantara saudara muslim diperangi, maka saudara muslim yang lainnya harus membela dan menolongnya. Peperangan harus dilawan dengan peperangan. Allah SWT berfirman: " Perangilah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian". (QS. Al-Baqarah: 191). Akan tetapi, jihad ini akan efektif jika dikomando oleh seorang pemimpin bagi seluruh kaum muslimin yakni seorang khalifah yang menerapkan sistem Khilafah.
Kenapa harus Khilafah? Khilafah adalah sistem politik bagi seluruh kaum muslimin yang berlandaskan akidah Islam, yang dimana pemimpinnya disebut khalifah. Khalifah inilah yang akan menyatukan seluruh pasukan kaum Muslim dimanapun mereka berada. Apa yang terjadi di Palestina saat ini, menyadarkan kita bahwa umat harus bersatu. Umat ini harus memiliki pelindung dan pemimpin yang satu. Berjuang dalam satu komando. Sekat-sekat imajiner negara buatan penjajah, seperti paham nasionalisme, patriotisme telah menjadikan umat ini lemah dan tercerai-berai.
Khalifahlah yang akan meneruskan sekaligus memimpin langsung pasukan kaum Muslim di seluruh dunia untuk membebaskan tanah Palestina dan menyelamatkan kaum Muslim di berbagai wilayah. Khalifah akan membuat ketakutan musuh-musuh Islam. Wajar jika dulu negara-negara kolonialis kafir Barat menyatakan, " Waspadalah terhadap khalifah kaum Muslim. Hanya dengan tunjuk tangannya, dia mampu mengerahkan jutaan pasukan untuk mengalahkan kita dalam pertempuran."
Karena itu, umat Islam memang membutuhkan seorang khalifah yang memimpin kaum Muslim diseluruh dunia. Rasulullah saw bersabda: "Imam (Khalifah) adalah perisai, dibelakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung." ( HR. al-Bukhari dan Muslim).
Wallahu a'lam.
Social Plugin