Ketika Rupiah Melemah, Apa yang Sebenarnya sedang Terjadi?

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah


MediaMuslim.my.id, Opini_ Rupiah kembali melemah. Nilainya terus tertekan. Harga-harga perlahan naik. Biaya hidup bertambah berat. Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya produksi. Lapangan kerja pun semakin tertekan. Banyak orang lalu bertanya:
"Mengapa negeri yang begitu kaya masih begitu rentan?"
Padahal tanahnya subur. Lautnya luas. Tambangnya melimpah. Penduduknya besar.

Al-Qur'an menjawab dengan mengingatkan bahwa keberkahan sebuah negeri tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya sumber daya yang dimiliki.
Allah ﷻ berfirman yang artinya:
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan."
(TQS Al-A'raf [7]: 96)

Ayat ini mengajarkan satu pelajaran penting.
Persoalan sebuah negeri tidak selalu bermula dari kurangnya kekayaan. Persoalannya justru terletak pada cara manusia mengatur kehidupan dengan meninggalkan petunjuk Penciptanya. Hari ini banyak analisis menjelaskan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh ketergantungan pada impor, arus modal asing, tingginya utang, dan dominasi dolar dalam sistem keuangan global.

Semua itu benar.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, seluruh faktor tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang sama:
ketergantungan. Dan ketergantungan itu bukan muncul begitu saja. Ia lahir dari sebuah cara pandang tentang kehidupan.

Ketika Kebahagiaan Didefinisikan oleh Manusia

Sistem kapitalisme dibangun di atas keyakinan bahwa manusialah yang berhak menentukan sendiri apa yang dianggap baik, apa yang dianggap membahagiakan, dan bagaimana cara mencapainya.
Keuntungan menjadi tujuan. Pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran keberhasilan. Konsumsi terus didorong meningkat. Keinginan manusia dipacu tanpa batas.

Padahal Allah ﷻ telah menjelaskan tabiat manusia jauh sebelum para ekonom modern berbicara tentang perilaku manusia.
Allah berfirman yang artinya:
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini..."
(TQS Ali Imran [3]: 14)

Islam tidak mengingkari fitrah tersebut. Manusia memang mencintai harta. Manusia ingin hidup nyaman. Manusia ingin masa depan yang baik bagi keluarganya. Namun justru karena Allah yang menciptakan manusia, Allah pula yang paling mengetahui bagaimana kecenderungan itu harus diatur.

Jika keinginan manusia dibiarkan menjadi penguasa kehidupan, maka yang lahir bukan ketenangan.
Yang lahir adalah perlombaan tanpa akhir. Lebih banyak harta. Lebih banyak keuntungan. Lebih banyak kekuasaan. Tetapi tidak pernah merasa cukup. Karena itu kapitalisme tidak sekadar menghasilkan pertumbuhan. Ia juga melahirkan ketimpangan, eksploitasi, dan berbagai krisis yang terus berulang.

Ketika Kekayaan Berputar di Lingkaran yang Sama

Dunia hari ini menghasilkan kekayaan yang luar biasa besar. Namun pada saat yang sama, kesenjangan semakin lebar. Sebagian kecil manusia menguasai kekayaan dalam jumlah fantastis, sementara jutaan lainnya berjuang memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar.

Al-Qur'an telah mengingatkan bahaya ini lebih dari empat belas abad yang lalu.
Allah ﷻ berfirman yang artinya:
"...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian."
(TQS Al-Hasyr [59]: 7)

Ayat ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah prinsip ekonomi. Allah menghendaki agar kekayaan beredar di tengah masyarakat, bukan terkonsentrasi pada segelintir pihak. Karena ketika kekayaan hanya berputar di lingkaran yang sempit, ketidakadilan akan tumbuh dan kerusakan sosial akan mengikuti.

Ketika Utang Menjadi Fondasi

Salah satu ciri paling menonjol dari sistem ekonomi kapitalis adalah ketergantungannya pada utang.

Negara berutang. Perusahaan berutang. Rumah tangga berutang. Bahkan pertumbuhan ekonomi sering kali dibangun di atas utang yang terus bertambah. Padahal Allah ﷻ telah memberikan peringatan yang sangat tegas:
"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
(TQS Al-Baqarah [2]: 275)
Bahkan Allah berfirman yang artinya:
"Maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya."
(TQS Al-Baqarah [2]: 279)

Tidak ada dosa muamalah lain yang diperingatkan dengan bahasa sekeras ini. Seolah Allah sedang mengingatkan bahwa riba bukan sekadar transaksi yang salah. Ia adalah pintu kerusakan yang akan merusak individu, keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Maka ketika hari ini negeri-negeri terus dibebani utang dan bergantung pada pembiayaan berbunga, seorang Muslim seharusnya tidak terkejut jika berbagai krisis terus berulang. Karena Al-Qur'an telah memperingatkannya sejak lama.

Al-Qur'an Tidak hanya Turun untuk Masjid

Di sinilah keindahan Islam tampak begitu nyata.
Allah tidak hanya menurunkan aturan tentang shalat.
Allah juga menurunkan aturan tentang pasar. Tentang perdagangan. Tentang kepemilikan. Tentang tambang. Tentang mata uang. Tentang distribusi kekayaan. Tentang hubungan negara dengan rakyatnya. Tentang bagaimana kebutuhan manusia dipenuhi tanpa melahirkan penindasan.

Karena itu Islam tidak berhenti pada kritik terhadap kerusakan yang ada. Islam juga menawarkan seperangkat aturan yang mengatur kepemilikan, distribusi kekayaan, pengelolaan sumber daya alam, sistem keuangan, hingga peran negara dalam menjamin kebutuhan rakyat.

Karena Allah tidak hanya menciptakan manusia sebagai individu yang beribadah. Allah juga menciptakan manusia sebagai makhluk yang hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena itu petunjuk-Nya hadir untuk mengatur seluruh kehidupan. Bukan sebagian.

Kerinduan yang Tumbuh

Ketika melihat rupiah melemah, mungkin yang perlu kita renungkan bukan hanya bagaimana menguatkan mata uang. Yang lebih mendasar adalah: mengapa umat yang memiliki petunjuk sempurna justru hidup dengan sistem yang lahir dari pemikiran manusia? Mengapa Al-Qur'an dibaca, dihafal, dan dikagumi, tetapi tidak dijadikan pemimpin kehidupan?

Padahal Allah ﷻ telah bertanya yang artinya:
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang meyakini?"
(TQS Al-Ma'idah [5]: 50)

Ayat ini menuntun kita memandang persoalan.
Pertanyaannya bukan lagi: "Apakah Islam mampu menyelesaikan masalah ekonomi?"
Tetapi: "Jika Allah adalah Pencipta manusia, adakah aturan yang lebih baik daripada aturan-Nya untuk mengatur kehidupan manusia?"

Di sinilah kerinduan itu tumbuh. Kerinduan agar Al-Qur'an tidak hanya dibaca. Tidak hanya dihafal. Tidak hanya dilombakan. Tetapi benar-benar memimpin kehidupan. Sebab ketika petunjuk Allah kembali menjadi dasar pengaturan kehidupan, di situlah keberkahan, keadilan, kemandirian, dan ketenangan menemukan jalannya.
Dan di situlah manusia menyadari bahwa Al-Qur'an tidak hanya diturunkan untuk dibaca, tetapi untuk memimpin kehidupan. Semakin dalam manusia memahami kehidupan, semakin tampak bahwa petunjuk Allah bukan sekadar benar, tetapi juga sempurna.

و الله اعلم بالصواب