Ilustrasi Pinterest
Oleh: Dewi Puspita Sari, MT
(Pengamat Kebijakan Publik)
MediaMuslim.my.id, Opini_ Dua tahun lebih pembantaian rakyat Palestina telah terjadi, namun tanda-tanda konflik berakhir masih jadi misteri. Apa yang nampak dimedia sejatinya hanya sebagian kecil fakta yang tak tersorot kamera. Perang yang mengorbankan rakyat sipil, membuat anak-anak Gaza banyak yang mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak yang telah menderita.
Salah satu dampak trauma membuat anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara. Tekanan fisik dan psikis yang besar, akibat melihat kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza, membuat banyak anak merespon kekejaman yang luar biasa itu dengan diam. Dokter-dokter setempat mengatakan bahwa kasus seperti itu jumlahnya terus meningkat.
Enam bulan gencatan senjata di Gaza berlalu, namun kekerasan masih berlanjut dan serangan-serangan Zionis tak henti. Sejak Oktober 2023, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 terluka, Sebagian besar anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara (detiknews.com, 30 Mei 2026).
Mengapa Banyak Anak-anak di Gaza Berhenti Berbicara?
Di Gaza, anak-anak hidup dalam ketakutan, kecemasan dan dihantui kekejaman dan kematian yang terlihat jelas. Setiap saat rudal dan meriam memekik ditelinga mencekam kehidupan mereka. Kekejian dan kebiadaban Zionis sering mereka saksikan. Fisik yang lelah, gizi yang tak terpenuhi, perlindungan yang hilang, membuat kondisi stres dan sistem saraf anak-anak banyak yang terganggu.
Trauma yang dialami setiap anak dalam perang berbeda-beda. Beberapa menunjukan sikap gelisah, susah tidur, emosi, hingga berteriak histeris hingga cenderung murung, berdiam diri hingga tak mau berinteraksi. Gejala ini bisa dideteksi karena awalnya mereka adalah anak-anak yang lincah dan ceria.
Bagi anak-anak itu, diam menjadi cara untuk tidak berinteraksi dengan dunia, yang membuat mereka menderita dan sakit. Jadi diam sebetulnya bukan keinginan yang disadari, namun respon spontan sistem neurologis terhadap stres dan trauma berat.
Setiap saat mereka harus mengungsi, kehilangan rumah, mustahil pergi ke sekolah karena sekolah-sekolah dibom. Anak-anak banyak kehilangan anggota keluarga, teman sekolah, guru, tetangga. Banyak anak-anak melihat tubuh-tubuh yang terpotong-potong dan mencium bau darah yang tumpah.
Beberapa anak bercerita bahwa mereka membantu mengumpulkan sisa-sisa tubuh manusia di jalan. Itu adalah trauma akut dan itu tidak terjadi hanya sekali, melainkan berkali-kali dialami sebagian besar anak-anak. Rasa aman ini telah hilang sepenuhnya karena besarnya kehancuran, yang berdampak pada semua orang di Gaza. Tidak ada anak di Gaza yang bisa tidur dengan keyakinan bahwa mereka akan bangun keesokan harinya. Mirisnya ada seorang anak yang berkata"aku tidak punya cita-cita karena aku hidup tidak sampai dewasa seperti anak-anak lain". Perang ini tidak hanya menyebabkan trauma, tetapi juga memengaruhi seluruh pandangan dunia mereka.
Genosida rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental, serangan ini paling dirasakan anak-anak. Karena penjajah memang tahu bahwa mereka akan menjadi generasi penerus perjuangan. Dunia tak mampu menghentikan kejahatan Zionis, hanya sedikit bantuan kemanusiaan, sementara penguasa muslim justru berkhianat terhadap perjuangan muslim Palestina. Umat Islam kehilangan perisai yang melindungi, yaitu Khilafah Islam yang pernah menaungi mereka selama berabad-abad.
Dampak-dampak Apa yang Timbul Akibat Trauma-trauma ini di Masa Depan?
Ketika seorang anak berhenti berinteraksi dan berbicara, dia juga akan berhenti berkembang. Seorang anak seharusnya mempraktikkan keterampilan bahasanya dengan anak-anak lain dan orang dewasa untuk belajar, menyelesaikan masalah, dan mempelajari banyak hal. Semua ini terputus karena hantaman besar, dan jika situasi ini berkepanjangan, hal itu memengaruhi amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab atas kamarahan yang terus-menerus, sehingga ukurannya membesar dan lebih besar pada anak-anak yang mengalami trauma.
Jika seorang anak tetap berada dalam keadaan tertekan, menarik diri, tanpa perkembangan maupun kemampuan bahasa, dan dibiarkan dalam situasi stres ekstrem dalam waktu lama, dia akan memiliki masalah di kemudian hari dalam hidupnya dan tidak akan pernah pulih dan selalu dalam ketakutan.
Bagaimana Islam Mengatasi?
Yang dibutuhkan oleh anak-anak Gaza adalah tempat yang aman untuk tinggal, kehidupan sehari-hari yang terstruktur, dapat kembali ke sekolah, bermain tanpa rasa takut. Yang paling penting adalah anak-anak ini tahu bahwa, meskipun seluruh dunia bukan tempat yang aman bagi mereka saat ini, ada ruang-ruang aman yang kecil. Bahwa ada orang-orang yang mengelilingi mereka di sini dan saat ini akan mendukung mereka.
Kehadiran para relawan, bantuan dan orang-orang yang peduli menjadi harapan yang mampu membuat mereka bertahan. Trauma yang dialami butuh pendekatan yang intens dan hangat. Komunikasi yang baik membangkitkan rasa ingin tahu anak. Ini adalah awal yang bisa membuat anak memercayai orang-orang sedikit demi sedikit. Dia bisa berbicara meski singkat dan kembali ke pribadi yang normal meskipun tidak cepat, karena dia memikul semua trauma itu.
Salah satu cara efektif berinteraksi dengan anak-anak adalah bermain, karena bermain adalah bahasa anak-anak. Melalui permainan mereka mempelajari keterampilan praktis, menyelesaikan masalah, berinteraksi sosial, mengekspresikan perasaan mereka. Peran orang-orang disekitarnya, bersamanya, menguatkan, memberi rasa aman, harapan dan mengembalikan kepercayaan dirinya sekaligus memberikan pemahaman dengan bahasa yang bisa dimengerti.
Namun yang paling penting adalah derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri, tak cukup sekedar terapi. Palestina harus dibebaskan dari penjajahan Israel. Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah.
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim (TQS. Al-Baqoroh: 193)
Jihad merupakan kewajiban agung yang dibebankan kepada generasi akhir zaman saat ini. Jihad juga yang telah membungkam kejahatan kaum Yahudi dimasa lalu.
"Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (TQS. At-Taubah: 41)
Jihad akan terlaksana dengan sempurna ketika dilaksanakan oleh negara. Khilafah satu-satunya sistem pemerintahan yang menjadikan dakwah dan jihad jalan hidupnya. Umat membutuhkan institusi Khilafah yang akan menyatukan kekuatan dan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Kesadaran perjuangan menegakkan Khilafah sangat penting bagi pembebasan Palestina dan persatuan kaum muslimin seluruh dunia. Wallahu a'lam bishowwab.
Social Plugin