![]() |
| Sumber Ilustrasi : iStock |
Oleh: Ade Surya Ramayani
Mediamuslim.my.id, OPINI - Dunia digital kembali memakan korban. Dua anak di Lombok Timur yang masih duduk di bangku TK dan SD meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi 'freestyle' yang viral di media sosial dan game online. Aksi tersebut diduga terinspirasi dari tayangan ekstrem yang banyak tersebar di internet, termasuk dari permainan populer seperti Garena Free Fire.
Peristiwa ini tentu meninggalkan duka mendalam. Namun lebih dari itu, tragedi tersebut seharusnya menjadi alarm besar bagi seluruh masyarakat. Sebab kasus ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan gambaran nyata tentang rapuhnya sistem penjagaan generasi di era digital hari ini.
Anak-anak yang belum matang secara akal dan emosi justru hidup di tengah arus informasi tanpa batas. Mereka melihat berbagai konten ekstrem setiap hari, lalu menirunya tanpa memahami bahaya yang mengintai. Ketika dunia digital dibiarkan menjadi ruang bebas tanpa kontrol, maka anak-anak menjadi kelompok paling rentan untuk menjadi korban.
Realita Digital: Anak-Anak Tumbuh Bersama Konten Tanpa Filter
Perkembangan teknologi digital memang memberi banyak kemudahan. Namun di sisi lain, teknologi juga menghadirkan ancaman serius ketika digunakan tanpa pengawasan dan arah yang benar. Media sosial, game online, dan platform video kini bukan lagi sekadar sarana hiburan, tetapi telah menjadi ruang yang membentuk pola pikir serta perilaku generasi muda.
Anak-anak usia dini berada pada fase meniru. Apa yang mereka lihat akan mudah mereka praktikkan. Apa yang dianggap menarik akan mereka ikuti. Dalam kondisi kemampuan berpikir yang belum sempurna, mereka belum mampu memilah mana hiburan dan mana bahaya. Akibatnya, berbagai aksi ekstrem yang viral sering dianggap sebagai permainan biasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia digital saat ini berjalan dengan logika sensasi dan popularitas. Konten yang memancing perhatian akan lebih cepat viral, meskipun berbahaya. Tayangan yang ekstrem justru sering mendapatkan lebih banyak penonton, lebih banyak interaksi, dan lebih banyak keuntungan ekonomi.
Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Anak-anak akhirnya tumbuh di bawah pengaruh algoritma media sosial, bukan di bawah bimbingan nilai dan pendidikan yang benar.
Lemahnya Pendampingan Keluarga
Tragedi ini juga menjadi refleksi tentang semakin lemahnya pendampingan terhadap anak di lingkungan keluarga. Tidak sedikit orang tua yang akhirnya menjadikan handphone sebagai “teman bermain” anak agar mereka tenang di rumah. Anak diberi akses internet sejak dini, tetapi tidak dibarengi pengawasan yang memadai.
Padahal, anak usia dini belum memiliki kemampuan menyaring informasi secara mandiri. Mereka membutuhkan arahan, pendampingan, dan kontrol dari orang dewasa. Kesibukan ekonomi dan gaya hidup modern sering membuat interaksi keluarga semakin berkurang. Anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama layar dibanding bersama orang tua. Akibatnya, proses pendidikan anak perlahan diambil alih oleh media digital.
Yang lebih berbahaya, dunia digital tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap tumbuh kembang anak. Platform media sosial bekerja berdasarkan jumlah penonton dan keuntungan pasar. Selama suatu konten menarik perhatian publik, maka konten tersebut akan terus disebarkan, meskipun berpotensi membahayakan generasi.
Lingkungan dan Negara yang Belum Memberikan Perlindungan Maksimal
Persoalan ini tidak bisa dibebankan hanya kepada keluarga. Lingkungan masyarakat dan negara juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga generasi.
Hari ini, kontrol sosial di tengah masyarakat semakin melemah. Anak-anak bermain tanpa pengawasan. Lingkungan cenderung bersikap individualis dan tidak peduli terhadap kondisi sekitar. Akibatnya, anak tumbuh tanpa penjagaan sosial yang kuat.
Di sisi lain, negara juga belum mampu menghadirkan perlindungan digital yang efektif. Konten berbahaya masih sangat mudah diakses. Tayangan kekerasan, aksi ekstrem, hingga budaya sensasi terus memenuhi ruang digital tanpa penyaringan yang serius.
Setiap kali muncul korban, solusi yang diberikan biasanya hanya sebatas imbauan agar orang tua lebih mengawasi anak. Padahal persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar kurang hati-hati.
Masalah utamanya terletak pada sistem kehidupan yang memberikan kebebasan luas kepada industri digital tanpa pengawasan yang kuat. Selama ukuran utama media adalah keuntungan dan trafik, maka keselamatan generasi akan terus berada di posisi kedua.
Islam Memandang Anak Sebagai Amanah yang Harus Dijaga
Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam melihat persoalan generasi. Dalam Islam, anak bukan sekadar bagian dari keluarga, tetapi amanah besar yang wajib dijaga dan dididik dengan penuh tanggung jawab.
Karena itulah Islam tidak membebani anak dengan hukum syariat sebelum mereka balig dan sempurna akalnya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memahami kondisi psikologis anak yang belum matang sehingga membutuhkan bimbingan orang dewasa dalam menjalani kehidupan.
Islam menempatkan orang tua sebagai pendidik utama generasi. Tugas orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjaga akidah, akhlak, pola pikir, dan lingkungan anak. Orang tua bertanggung jawab memastikan bahwa apa yang dikonsumsi anak membawa manfaat bagi tumbuh kembangnya.
Namun Islam tidak menyerahkan tanggung jawab pendidikan hanya kepada keluarga semata. Islam membangun sistem penjagaan generasi melalui tiga pilar utama: keluarga, masyarakat, dan negara.
Keluarga menjadi tempat pertama penanaman iman dan akhlak. Masyarakat berperan menciptakan lingkungan yang sehat dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Sementara negara memiliki tanggung jawab menjaga ruang publik agar tidak dipenuhi hal-hal yang merusak generasi.
Islam Sebagai Solusi Penjagaan Generasi
Dalam sistem Islam, negara tidak akan membiarkan media bebas menyebarkan konten yang membahayakan masyarakat, terutama anak-anak. Negara memiliki kewajiban menjaga akal dan keselamatan generasi dari berbagai bentuk kerusakan informasi.
Karena itu, konten yang mengandung kekerasan, merusak moral, atau membahayakan keselamatan masyarakat akan dibatasi secara tegas. Negara juga akan menghadirkan media yang berfungsi sebagai sarana pendidikan dan pembentukan peradaban, bukan sekadar alat hiburan dan industri keuntungan.
Islam juga membangun budaya masyarakat yang peduli terhadap tumbuh kembang anak. Lingkungan tidak bersikap cuek terhadap kerusakan, tetapi aktif menjaga dan mengingatkan satu sama lain.
Dengan sistem seperti ini, anak-anak tidak dibiarkan tumbuh sendirian di tengah arus digital yang liar. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang terarah, terjaga, dan dibimbing menuju kebaikan.
Penutup
Tragedi di Lombok Timur seharusnya menjadi bahan renungan bersama. Kasus ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap generasi hari ini bukan hanya datang dari dunia nyata, tetapi juga dari dunia digital yang tidak terkendali.
Anak-anak tidak cukup hanya diberikan teknologi dan akses informasi. Mereka membutuhkan pendampingan, pendidikan, lingkungan yang sehat, dan sistem kehidupan yang benar-benar menjaga keselamatan mereka.
Jika ruang digital terus dibiarkan berjalan tanpa arah, sementara keluarga, masyarakat, dan negara tidak hadir memberikan perlindungan yang serius, maka tragedi serupa sangat mungkin terus terulang.
Islam menghadirkan solusi yang menyeluruh dalam menjaga generasi. Bukan hanya melalui nasihat moral, tetapi melalui sistem kehidupan yang menempatkan keselamatan akal, jiwa, dan masa depan anak sebagai tanggung jawab bersama. Sebab masa depan sebuah peradaban sangat ditentukan oleh bagaimana ia menjaga generasinya hari ini.
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.

Social Plugin