Hardiknas vs Fakta Dunia Pendidikan


Ilustrasi Pinterest
Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)

MediaMuslim.my.id, Opini_ Setiap tanggal 2 mei selalu diperingati hari Pendidikan Nasional, tapi nyatanya dunia pendidikan hari ini semakin buram dan memprihatinkan.

Banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa, ruang aman di sekolah dan kampus belum terjamin.

Atau kasus kecurangan dalam ujian dengan maraknya joki UTBK, dan budaya plagiat terjadi merata di semua lembaga pendidikan. 

Seperti dilansir detikJatim, Rabu (22/4/2026), di Unesa, panitia berhasil mengamankan seorang joki yang mencoba mengelabui petugas dengan dokumen palsu. Sementara di Unair, terduga joki diduga sudah terendus identitasnya hingga akhirnya memilih tidak hadir di lokasi ujian.

Ada juga kekerasan dikalangan pelajar. seperti kasus penganiayaan pelajar di Bantul, aparat kepolisian berhasil menangkap pelaku setelah melalui serangkaian penyelidikan. Korban, Ilham Dwi Saputra (16), meninggal dunia usai mengalami pengeroyokan brutal yang terjadi pada 14 April 2026 di wilayah Pandak.
(Bantul, tvOnenews.com. Rabu, 22/4/2026)

Sungguh miris melihat potret dunia pendidikan hari ini, masih banyak masalah yang belum bisa diselesaikan dengan tuntas oleh negara dan masih menjadi pr besar.

Seharusnya adanya peringatan hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini. Tidak cukup hanya dengan memperingati saja, tapi harus menyadari juga realita pahit didunia pendidikan.

Adanya kegagalan implementasi arah/peta jalan pendidikan sehingga menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik hari ini telah  menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar. 

Longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih dianggap di bawah umur) sehingga menoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Padahal kejahatan mereka sama seperti kejahatan orang-orang dewasa, harusnya mendapatkan sanksi yang sama.

Juga minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.

Di daalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan. 

Pendidikan Islam fokus pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah) dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya sesuai Islam.

Selain itu, Islam juga menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk para pelajar, karena mereka sama-sama telah melanggar hukum syara dan berbuat kriminal.

Negara dengan sistem Islam juga akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan.

Sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan dan sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara akan berpijak pada aqidah dan syariat Islam. Dengan begitu, tidak akan ada lagi kenakalan atau kejahatan yang di lakukan oleh pelajar. Kalaupun ada, hanya sedikit dan mampu diselesaikan dengan tuntas oleh negara.

Wallahu a'lam bishshawab.