Perang Narasi di Bumi Palestina

 


Oleh Widya 

Aktivis Muslimah


2026 sudah hampir sampai di pertengahan tahun, namun perang di Palestina masih bergulir. Ratusan ribu nyawa, ribuan mimpi yang tertimbun, dan jeritan kelaparan yang seolah hanya jadi latar belakang bising bagi dunia. Tapi sadarkah kita? Di balik dentuman bom, ada perang lain yang sedang berkecamuk hebat, yaitu Perang Narasi.

Sejak Oktober 2023, ada upaya sistematis untuk membungkam suara dari Gaza. Bukan cuma lewat senjata, tapi lewat sensor media arus utama di Barat. Mereka bicara soal kemanusiaan, tapi di saat yang sama mengirimkan dukungan senjata tanpa henti. Selama lebih dari dua tahun, Israel dengan dukungan diplomatik Barat tetap melarang jurnalis internasional masuk ke Gaza secara mandiri. Informasi yang keluar sering kali berasal dari jurnalis yang "menempel" (embedded) pada militer, yang laporannya harusq melewati sensor militer sebelum dipublikasikan.

Gaza hari ini adalah kuburan bagi jurnalis. Bayangkan, memegang kamera di sana sama berbahayanya dengan memegang senjata. Laporan CPJ mencatat hampir 70% jurnalis yang gugur di 2024 memang sengaja dijadikan sasaran. Namun, apa respon dunia? Media-media besar di sana seringkali menutup mata. Mereka menerapkan standar ganda: meragukan laporan dari lapangan Gaza, tapi menelan mentah-mentah klaim militer. Selama dua tahun ini, jurnalis internasional dilarang masuk secara mandiri. Mengapa? Karena ada kebenaran yang tidak ingin mereka biarkan keluar.

Masuk ke tahun 2026, cara membungkam Gaza mulai berganti rupa. Sekarang narasi "demiliterisasi" dan "Board of Peace" (BoP) mulai digaungkan. Kedengarannya seperti solusi, tapi jujur saja, ini terasa seperti upaya mengatur ulang Gaza tanpa melibatkan rakyatnya sendiri. Mereka ingin membangun kembali bangunan yang hancur, tapi sekaligus melumpuhkan hak perlawanan bangsa Palestina secara permanen.

Bagi kita, mendukung Palestina bukan cuma soal solidaritas kelompok, tapi soal menegakkan keadilan yang berakar pada keyakinan. Perdamaian sejati mustahil tercapai selama penjajahan masih ada. Hak atas tanah dan kedaulatan adalah harga mati. Jihad kita hari ini mungkin bukan di garis depan, tapi lewat doa yang tak putus, bantuan kemanusiaan yang nyata, dan konsistensi kita menyuarakan kebenaran serta memboikot pendukung penindasan.

Walau BOP sudah berdiri pada kenyataannya perang tetap berlangsung, malah melibatkan Libanon dan Iran. Jika sudah begini masihkah kita percaya dengan Trump dan sekutunya? Kita butuh negara-negara Muslim untuk satu suara, menekan dunia agar tidak lagi bermain dua kaki. Kesabaran rakyat Palestina dalam menjaga tanah suci adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa di atas segala konspirasi narasi manusia, ada janji Allah yang takkan pernah meleset. Jangan biarkan Gaza berjuang sendirian. Karena ketika kita memilih diam, saat itulah kita membiarkan sejarah mencatat bahwa keadilan telah kita khianati. 


Kita mungkin tidak mampu untuk menyampaikan rasa cinta kita untuk Palestina kepada umat bahkan kepada pemerintah, namun kita bisa menunjukkan rasa cinta itu dengan terus menyampaikan kabar terupdate tentang Palestina kepada umat agar mereka tidak melupakan penderitaan dan perjuangan saudara-saudara kita di Palestina hingga janji Allah itu tegak. Semoga Khilafah Rasyidah yang kita dambakan akan segera tegak berdiri demi memberantas penjajahan di manapun negeri Muslim berdiri.