Kesatuan Negeri Muslim Mampu Mengalahkan Hegemoni Global

Ilustrasi Pinterest
By : Ummu Al Faruq 

MediaMuslim.my.id, Opini_ Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Putra dari Ayatullah Ali Khamenei itu menegaskan, bahwa ketahanan Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Mojtaba menekankan bahwa strategi "perlawanan" yang diusung Iran berhasil mematahkan dominasi Barat dan sekutunya, sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di panggung global.

"Iran telah membuktikan bahwa kekuatan iman dan kemandirian mampu mengalahkan kekuatan materialistik. Hari ini, dunia melihat Iran bukan hanya sebagai negara yang bertahan, tetapi sebagai mercusuar inspirasi bagi mereka yang mencari keadilan,” ujar Mojtaba Khamenei dalam sebuah forum di Teheran.

Ia juga menambahkan bahwa kegagalan kebijakan sanksi dan tekanan militer dari AS serta Israel merupakan bukti nyata dari pergeseran kekuatan global. Menurutnya, model pemerintahan dan keteguhan Iran kini menjadi rujukan bagi gerakan-gerakan di berbagai belahan dunia yang menentang hegemoni kekuatan besar.

Hingga saat ini, pihak Washington maupun Tel Aviv belum memberikan respons resmi terkait pernyataan tersebut. Namun, klaim ini dipandang oleh para analis sebagai upaya untuk memperkuat narasi internal Iran mengenai keberhasilan kebijakan luar negeri mereka di tengah isolasi ekonomi yang masih berlangsung.

Umat Islam Punya Potensi Kekuatan Melawan Hegemoni Kapitalisme Global

AS dan Israel tak sekuat yang dibayangkan dunia sebagai negara adikuasa. Iran membuktikan keberanian melawan AS. Perang tersebut membuat dunia menyadari bahwa AS mampu di kalahkan, meskipun dunia mengklaim AS sebagai negara super power. Namun, nyatanya AS tidak memiliki kekuatan yang besar untuk menghadapi Iran. 

Perang Iran juga menunjukkan fakta bahwa umat Islam sejatinya punya potensi kekuatan untuk melawan hegemoni kapitalisme globa. Umat Islam punya potensi ideologi, kekayaan alam, kemampuan SDM, bahkan potensi teknologi yang bisa dioptimalkan menjadi kekuatan untuk mengalahkan musuh islam.

Tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, kecuali ada kepentingan. Negeri muslim yang berkomplotan dengan AS beserta para sekutunya, khususnya para pemimpin Arab yang tanpa malu dan memilih loyal dengan AS, hingga mau bersekutu hanya demi melanggengkan kepentingan mereka di dalam kursi kekuasaan-Nya. 

Pengkhianatan penguasa muslim melemahkan kesatuan umat. Hubungan kerja sama AS dengan beberapa Negara muslim untuk menyerang Iran merupakan kejahatan yang besar. Sementara mereka mengetahui bahwa AS dan Israel masih melakukan serangan terhadap kaum muslim yang berada di wilayah Palestina, namun mereka secara terang-terangan mendukung AS dalam peperangan tersebut. Meskipun yang dilakukan mereka atas kepentingan nasional masing-masing. 

Potensi kesatuan negeri muslim bisa menjadi kekuatan global baru. Negeri-negeri muslim harus memiliki keyakinan yang mendalam bahwa AS dan Israel mampu dikalahkan, sebab mereka nyataannya tidak memiliki kekuatan besar, ketika seluruh negeri muslim mau bersatu dan tidak terpecah belah. 

Institusi Khilafah sangat Penting, Wajib Diperjuangkan

Membangun kesadaran umat bahwa kesatuan negeri muslim sangat urgen. Kemuliaan bagi umat islam hanya dengan berpegang teguh pada tali agama Islam. Allah Taala telah memerintahkan, “Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (TQS Ali Imran: 103).

Dalam perspektif Islam, kesatuan ini tidak sekadar bersifat geografis atau politis,
melainkan ideologis, yaitu disatukan oleh akidah dan tujuan yang sama.
Kepemimpinan Islam yang menyatukan umat diyakini mampu membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan, menghentikan ketergantungan terhadap kekuatan asing, serta menghadirkan keadilan bagi seluruh umat manusia.

Lebih dari itu, kepemimpinan tersebut tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada penyebaran nilai-nilai Islam melalui dakwah dan jihad dalam makna yang syar'i. Dengan demikian, Islam tidak hanya hadir sebagai solusi bagi umatnya, tetapi juga sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Sehingga pada akhirnya, konflik AS-Iran ini bukanlah sekadar soal siapa menang atau kalah, tetapi membuka mata dunia bahwa dominasi global bukanlah sesuatu yang tidak bisa ditandingi. Jika satu negeri saja mampu berdiri menghadapi tekanan besar, maka kesatuan negeri-negeri Islam memiliki potensi jauh lebih besar untuk mengubah peta kekuatan dunia.

Wallahu A'lam Bishawwab