Ilustrasi Pinterest
Oleh Pastri Sokma Sari
MediaMuslim.my.id, Opini_ Rakyat Gaza merayakan Idulfitri 1447 Hijriyah dan melaksanakan salat Id pada Jumat (20/03) sebagaimana dilansir oleh (news.detik.com, 20/03/2026). Warga Gaza, Palestina, menunaikan salat Idulfitri 1447 H pada 20 Maret 2026 di tengah reruntuhan akibat serangan Israel, tetap beribadah dengan khusyuk meski dilanda genosida dan pengungsian. Salat dilaksanakan di ruang terbuka dan sekitar masjid yang rusak, termasuk di Lapangan Al-Saraya, sementara serangan udara sehari sebelumnya menewaskan empat orang meski gencatan senjata diklaim berlaku. Di Yerusalem Timur, Israel melarang salat Id di Masjid Al-Aqsa dengan alasan keamanan, memicu pembatasan ketat dan tindakan represif terhadap warga Palestina. Akibatnya, perayaan Idulfitri berlangsung muram, disertai kesulitan ekonomi karena pembatasan aktivitas warga.
Pelarangan salat Id di Masjidil Aqsa dilakukan oleh Zionis dengan alasan keamanan menjadikan untuk pertama kali sejak 1967 salat Id ditiadakan. Hal tersebut sebagaimana dilansir oleh (mozaik.inilah.com, 20/03/2026) diberitakan bahwa warga Palestina yang mencoba mendekati kompleks Masjidil Aqsa dihadang dan mengalami tindakan represif, termasuk pemukulan, granat kejut, dan gas air mata, sehingga mereka terpaksa melaksanakan salat di sekitar Kota Tua sebagai bentuk keteguhan iman. Kebijakan tersebut juga berdampak luas, menjadikan kawasan yang biasanya ramai berubah sepi seperti “kota hantu”, serta menekan kondisi ekonomi warga akibat pembatasan aktivitas dan penutupan toko. Pembatasan akses ini bahkan telah terjadi sejak malam-malam terakhir Ramadan, termasuk pada Lailatul Qadar, ketika banyak jemaah tertahan di gerbang dan dipaksa beribadah di luar area masjid, menegaskan semakin terbatasnya kebebasan beribadah di salah satu situs suci umat Islam tersebut.
Belakangan ini perhatian media global lebih banyak tertuju pada konflik Iran dengan AS dan Zionis, sehingga kabar tentang penderitaan warga Gaza kian meredup. Padahal, lebih dari tiga tahun mereka hidup di tengah reruntuhan akibat agresi yang terus berlangsung dan pelanggaran gencatan senjata. Ribuan nyawa melayang dan ratusan ribu lainnya terluka, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Idulfitri yang kini memasuki tahun ketiga sejak agresi 2023 pun tetap dirayakan dalam kondisi krisis kemanusiaan, dengan keterbatasan pangan, air bersih, obat-obatan, serta banyaknya warga yang tinggal di tenda darurat.
Situasi semakin memburuk dengan ribuan pelanggaran gencatan senjata yang terjadi sejak Oktober 2025, berupa serangan darat dan udara yang terus menelan korban jiwa. Bantuan kemanusiaan pun terhambat, hanya sebagian kecil yang berhasil masuk, sementara akses wilayah seperti Rafah masih dibatasi. Akibatnya, Idulfitri di Gaza berlangsung tanpa kebahagiaan, karena kebutuhan dasar sulit terpenuhi dan tidak ada jaminan keamanan maupun kepastian kapan penderitaan ini akan berakhir.
Di tengah kondisi tersebut, muncul ironi ketika sebagian negara Muslim justru menjalin hubungan dengan AS dan menormalisasi relasi dengan Zionis, seolah mengabaikan penderitaan rakyat Gaza. Padahal, dalam ajaran Islam, umat digambarkan seperti satu tubuh yang saling merasakan sakit. Namun, persatuan itu terpecah oleh kepentingan politik dan nasionalisme, sementara AS dinilai tidak mampu mewujudkan perdamaian dan justru mendukung penjajahan yang terjadi di Palestina. Nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan jadi prioritas bagi AS dan Israel, dua negara tersebut hanya fokus pada hegemoni kekuasaannya pada dunia.
Dominasi dan kepentingan geopolitik negara besar membuat umat Islam berada dalam posisi terjepit dan terpecah. Kekuatan umat yang seharusnya dapat bersatu justru tereduksi oleh sistem global yang berbasis kepentingan nasional. Dalam situasi ini, makna kemenangan Idulfitri seharusnya tidak sekadar simbol perayaan, tetapi juga kesadaran akan pentingnya membebaskan Palestina dari penjajahan. Idul Fitri dalam kondisi mengenaskan ini harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin, bak satu tubuh. Selama penderitaan di Gaza masih berlangsung, kemenangan sejati bagi umat Islam belum benar-benar terwujud.
Maka, hal pertama yang harus dilakukan umat adalah sadar bahwa umat Islam seluruh dunia adalah satu dan kewajiban kita semua untuk berkasih sayang dengan muslim lainnya. Al-Qur’an menegaskan bahwa karakter utama kaum mukmin adalah bersikap penuh kasih sayang kepada sesama muslim dan tegas terhadap orang kafir. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam QS.Al-Fath ayat 29, yang menjelaskan bahwa para pengikut Rasulullah saw. memiliki ketegasan dalam menghadapi pihak yang memusuhi Islam, namun tetap lembut dan penuh empati terhadap saudara seiman. Para ulama seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keseimbangan sikap ini menjadi ciri keimanan yang hakiki, diperkuat pula oleh hadis Nabi saw. yang menggambarkan kaum mukmin seperti satu tubuh yang saling merasakan penderitaan satu sama lain.
Sikap tersebut menuntut umat Islam untuk menempatkan kelembutan dan ketegasan secara proporsional sesuai syariat. Kasih sayang kepada sesama muslim diwujudkan dalam solidaritas dan kepedulian, sementara ketegasan terhadap pihak yang memusuhi Islam berarti tidak tunduk pada kezaliman dan tidak membiarkan kehormatan agama diinjak. Islam juga melarang kaum mukmin menjadikan orang kafir sebagai penolong dengan mengabaikan saudara seiman, sebagaimana ditegaskan dalam QS.Ali Imran ayat 28, yang menunjukkan pentingnya menjaga loyalitas kepada umat Islam.
Untuk mewujudkan kembali persatuan umat, ukhuwah Islamiyah harus dibangun di atas ikatan akidah, bukan sekadar kebangsaan atau kepentingan golongan. Dengan dasar ini, umat Islam akan memiliki kesatuan visi, perasaan, dan tujuan dalam membela serta membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan. Persatuan tersebut dipandang sebagai landasan penting untuk mengakhiri berbagai bentuk penindasan yang menimpa umat di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina.
Dengan terbangunnya ikatan tersebut, umat Islam akan memiliki kesatuan cara pandang, rasa, dan aturan hidup, yakni berjuang membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan melalui jihad di jalan Allah yang dipimpin oleh satu kepemimpinan bagi seluruh kaum muslim. Seruan agar kaum mukmin melaksanakan syariat jihad ada di QS.at-Taubah ayat 123. Dalam Islam, jihad fi sabilillah merupakan amalan yang agung dalam menjaga umat dari kezaliman dan menegakkan agama Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS Ash-Shaff ayat 10–13, yang menggambarkan jihad sebagai jalan menuju keselamatan dan kemenangan. Jihad tidak hanya bermakna pengorbanan harta dan jiwa, tetapi juga sebagai upaya kolektif dalam mempertahankan kehormatan dan kedaulatan umat Islam.
Persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan tunggal, Khilafah Islamiyah, merupakan kunci untuk mewujudkan kekuatan umat. Tanpa persatuan, penderitaan seperti yang dialami warga Gaza akan terus berulang. Oleh karena itu, momentum Idulfitri seharusnya menjadi pengingat bahwa penderitaan satu bagian umat adalah penderitaan bersama, dan hanya dengan persatuan yang kokoh, berbagai bentuk penindasan dapat diakhiri.
Social Plugin