Ilustrasi Pinterest
Oleh : Linda Maulidia, S.Si
MediaMuslim.my.id, Opini_ Krisis kejiwaan pada anak bukan lagi menjadi masalah yang patut dipandang sebelah mata. Dari hasil Survey Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, yang salah satu poin utamanya adalah masalah kesehatan jiwa, ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa. (nasional.kompas.com, 7/3/2026)
Berdasarkan data healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup. Pertama, konflik keluarga sebanyak 24–46 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen. Selain itu, data Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan gejala depresi dan kecemasan pada anak dan remaja sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Skrining pada anak usia 7–17 tahun menunjukkan 4,8 persen mengalami gejala depresi dan 4,4 persen mengalami gejala kecemasan.
Menanggapi hal ini, SKB kesehatan jiwa diteken oleh: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Masalah Kejiwaan Akut: Produk Sekularisme
Banyak faktor yang menjadi sebab meningkatnya krisis kejiwaan pada anak hingga sampai oada tahap mengkhawatirkan. Mulai dari konflik keluarga, masalah psikologis, perundungan hingga tekanan akademik. Meski sudah menjadi masalah global, namun penanganan yang diberikan dan diterapkan tidak menyentuh akar masalah, hanya solusi tambal sulam yang justru semakin memelihara keterpurukan jiwa yang sedang melanda.
Krisis kejiwaan pada anak merupakan penyakit yang lahir dari peradaban Barat dengan sekularismenya. Sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan ini menciptakan manusia yang lemah dan rapuh. Mental yang lemah bisa dipengaruhi dari kondisi ekonomi, latar belakang pendidikan, keadaan keluarga, masyarakat yang individualis dan materialistis, masalah pekerjaan, dan sebagainya. Ini merupakan faktor eksternal penyebab berbagai problem kejiwaan.
Faktor internal dari diri yang tidak memiliki kemampuan memahami kehidupan dan kesiapan menerima keadaan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Ketika menghadapi ujian, manusia tidak mampu menanganinya dengan cara yang benar. Karena ketidakmampuan menerima itulah kemudian manusia mengambil jalan pintas atau mencari pelarian dari masalahnya. Alih-alih masalah menjadi beres, yang ada malah kian runyam. Depresi, terjerat narkoba, bahkan bunuh diri banyak terjadi di masyarakat yang hidup di bawah aturan yang sekuler.
Sistem kapitalisme yang sekuler mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat, tetapi menguntungkan golongannya dan elite kapitalis. Penguasa hanya bertindak sebagai regulator atau pembuat undang-undang dan bukan sebagai pelayan umat. Masyarakat dibiarkan sendiri menghadapi berbagai kesulitan hidup akibat kebijakan yang tidak berpihak pada mereka. Harga-harga kebutuhan hidup yang terus naik, PHK massal, pengangguran, sulitnya mencari pekerjaan, dan tidak adanya jaminan dari negara membuat rakyat makin menderita.
Ragam permasalahan ini membangun kondisi yang tidak ideal dan tidak kondusif teehadap tumbuh kembang mental dan psikologis anak. Mereka tidak mendapatkan sokongan sistem yang dibutuhkan untuk membentuk jiwa yang kokoh dan berkepribadian yang penuh prinsip dan tanggung jawab. Mulai dari keluarga yang penuh masalah rumah tangga, ketidakstabilan ekonomi, lingkungan yang kurang baik di tempat mereka hidup, dan suasana pendidikan yang kompetitif tidak dibarengi dengan sistem pendidikan yang ideal.
Butuh Solusi Islam
Islam bukan hanya agama, tetapi juga pandangan hidup yang memiliki seperangkat aturan yang lengkap. Di dalamnya terdapat solusi-solusi untuk masalah kehidupan. Islam tidak hanya mengatur kehidupan, tetapi juga memberi pemecahan untuk problematik manusia. Begitu pula dengan masalah kesehatan kejiwaan bisa diselesaikan sesuai aturan Islam kaffah, dan memerapkannya dalam segala aspek kehidupan.
Diantara penerapannya adalah pada aspek ekonomi, negara yang menerapkan sistem aturan Islam akan memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya sehingga dapat hidup dengan layak. Rakyat tidak kesulitan mencari pekerjaan atau mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Kebutuhan akan tempat tinggal pun tersedia bagi rakyat sehingga tidak ada yang hidup menggelandang tanpa rumah.
Pada aspek kesehatan negara akan menyediakan berbagai fasilitas kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Pelayanan kesehatan ini terjangkau, berkualitas, dan merata. Tidak ada diskriminasi. Siapa saja yang mengalami permasalahan, baik ringan atau berat, akan mendapatkan pelayanan terbaik dari negara. Rakyat juga tidak akan pusing memikirkan biaya pengobatannya sehingga bisa fokus dengan pemulihan kesehatan.
Dengan tercukupinya kebutuhan hidup dan kesehatan yang baik, akan menyokong terwujudnya keluarga yang ideal, orang tua keluarga akan mendidik anak-anaknya sebaik mungkin sesuai syariat Islam. Menanamkan akidah Islam yang mantap sehingga terbentuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dalam segala keadaan, hingga terwujud kepribadian dan jiwa.yang kuat yang telah ditanamkan sejak dini di rumah.
Pada aspek pendidikan, negara akan menerapkan pendidikan berbasis akidah Islam. Dalam pendidikan ini, manusia tidak hanya dididik secara akademis guna meraih capaian secara angka dan materi. Namun, juga dibina kepribadian dan pemikirannya sesuai akidah Islam. Demikian juga akan diterapkan pada aspek lainnya seperti pengaturan sosial masyatakat yang kental dengan suasana ketakwaan dan amar ma'ruf nahi mungkar, hingga penerapan aspek hukum sanksi Islam yang adil.
Oleh karena itu, satu-satunya solusi untuk bisa mendapatkan kehidupan yang baik, sejahtera, sehat lahir dan batin adalah dengan menerapkan aturan Allah, Sang Khalik. Tiada aturan yang lebih baik dari aturan-Nya bagi manusia sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Maidah ayat 50: “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Wallahua'lam
Social Plugin