Ketika Pedoman Hidup Ditinggalkan, Nyawa Tak Lagi Berharga


Ilustrasi Pinterest
Oleh : Yayat Rohayati



MediaMuslim.my.id_  Mengutip dari kompas.com,1 Maret 2026, beberapa pekan lalu telah ditemukan dua jenazah perempuan tanpa identitas di hari yang sama tapi berbeda tempat. Satu jenazah berlokasi di sekitaran kawasan Industri Karawang Jabar Industrial Estate (KJIE), dan satu lagi ditemukan di sebuah pos ronda daerah Bunut Kertayasa, Karawang Barat. Keduanya diduga merupakan korban pembunuhan. 

Tak mengenal waktu dan tempat, kasus pembunuhan kerap terjadi menambah daftar panjang kasus pembunuhan di negeri ini. Bahkan di bulan Ramadhan yang mulia, penuh rahmat, dan ampunan, kasus pembunuhan masih terjadi. Hal ini menunjukan alarm keras bahwa ada yang retak dalam fondasi kehidupan masyarakat.

Di sistem hari ini, kehidupan tak lagi berpedoman pada pedoman yang shohih dan mulia, Al-Qur'an dan sunah. Kapitalisme dengan akidah sekularisme atau memisahkan agama dari kehidupan menjadikan aturan buatan manusia sebagai pedoman hidup mereka. Tak menilai suatu perbuatan dari halal dan haram, tapi standar baik buruk mereka diukur oleh hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Akibatnya, kekerasan dianggap solusi bukan dosa besar. Akhirnya nyawa manusia yang suci nan mulia seakan tak lagi berharga. 

Padahal dalam ajaran Islam, nyawa manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur’an:

"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya....." (TQS. Al-Maidah:32). 

Ayat ini menjelaskan bahwa satu nyawa saja memiliki nilai yang sangat besar. Namun realitas hari ini menunjukkan sebaliknya. Emosi sesaat, dendam, persoalan ekonomi, bahkan perkara sepele mampu memicu hilangnya nyawa.

Semua itu terjadi karena hilangnya pedoman hidup nan mulia dari kehidupan. Manusia menjauh dari aturan Allah. Aturan Allah hanya ada dalam ranah individu terkait ibadah saja, sedangkan dalam ranah lainnya seperti ekonomi, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, dan lainnya  tunduk pada aturan Barat. 

Padahal IsIam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Karena, selain mengatur masalah ibadah (hablumminallah), Islam juga mengatur masalah individu dengan dirinya (habluminafsi), dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (habluminannas). Maka, apabila aturan IsIam diterapkan secara kaffah (keseluruhan) dalam segala aspek kehidupan, in syaa Allah masyarakat aman dan sejahtera terhindar dari berbagai kemaksiatan termasuk kekerasan. 

Dalam IsIam, pendidikan berbasis akidah Islam akan diberikan kepada setiap individu sehingga membentuk individu bertakwa, yang memiliki pola pikir dan pola sikap IsIami (berkepribadian IsIam). Individu bertakwa akan melahirkan kesadaran bahwa setiap perbuatan kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Masyarakat dalam IsIam terbentuk dari individu bertakwa, sehingga akan senantiasa melakukan amar makruf nahi munkar. Kemudian, negara akan hadir sebagai pelindung (junnah) dan pengurus urusan rakyat (riayah suunil ummah). 

Negara akan memberikan sanksi tegas kepada setiap pelaku kejahatan, sebagai bentuk perlindungan keamanan rakyatnya. Selain itu, negara akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar lainnya. Sehingga tak ada lagi nyawa melayang dikarenakan susahnya mendapatkan hak mereka. 

Nyawa adalah amanah. Ketika pedoman hidup dipahami dan diamalkan dalam segala lini kehidupan, manusia akan menahan diri dari kezaliman. Namun ketika pedoman ditinggalkan, bukan hanya moral yang runtuh, nyawa pun menjadi taruhannya.

Jika kita tak rela melihat banyak nyawa melayang karena kehilangan arah, sudah saatnya kita beralih kepada pedoman hidup yang shohih, Al-Qur'an dan sunah. Kompas kehidupan yang berasal dari yang Maha Tahu hakikat makhluknya, Allah Swt, dalam naungan Daulah Islamiyah. 

Wallahu a'lam bishashawab.