Ilustrasi Pinterest
Oleh Lulu Nugroho
MediaMuslim.my.id, Opini_ Kasus pembacokan di UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang dilakukan seorang mahasiswa, saat teman perempuannya sedang menunggu sidang proposal, diduga kuat karena persoalan pribadi, setelah cintanya ditolak. Miris memang melihat fenomena yang terjadi saat ini, remaja tampak rapuh hingga dengan mudahnya menghabisi nyawa orang lain. (Tempo.co, 1/3/2016)
Tak dapat berpikir panjang, menimbang dan memilih sikap terbaik terhadap satu masalah. Pun tak lagi takut sanksi yang akan dihadapinya, akibat perbuatannya. Sistem sekuler hari ini telah gagal membentuk pribadi mulia. Tanpa panduan Allah, manusia berbuat semaunya. Jauh dari Sang Pencipta, membuat manusia kerontang dari sentuhan Ilahi. Akibatnya, perilaku pemuda pun menjadi kasar, keras, mudah terpancing pada hal sepele.
Sekularisme juga menormalisasi nilai-nilai liberalisme. Alhasil marak pergaulan bebas, pacaran, perselingkuhan, dan sebagainya. Masyarakat melihatnya sebagai hal biasa sehingga tidak perlu diperbaiki. Saat menemui masalah, hasil dari interaksi yang serba bebas, mereka juga akan mengambil solusi salah. Maka permasalahan di tengah masyarakat akan terus datang, bertubi-tubi, tak menemukan solusi.
Negara dengan sistem kapitalis, tak memprioritaskan pembinaan generasi, akibatnya generasi pun dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. Akibatnya, output yang dihasilkan pun adalah generasi dengan pribadi sekuler yang tak mampu mengaitkan aktivitasnya dengan kesadaran terhadap hubungannya dengan Allah SWT.
Konstruksi Hakiki
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam, baik pola pikir (aqliyah) maupun pola sikap (nafsiyah) sesuai nilai syariat. Akidah menjadi asas pemikiran (qaidah fikriyah). Seluruh aktivitasnya bersandar pada perintah dan larangan Allah. Generasi dibentuk agar memiliki kesadaran untuk taat pada hukum Allah, di setiap kondisi.
Generasi pun bermental kuat, tidak mudah lemah dan putus asa. Patah hati tidak membuatnya gelap mata dan hilang arah, akan tetapi mereka mampu mengaitkannya dengan kekuasaan Allah yang Mahaluas. Bahkan sebaliknya, ia akan mengisi harinya dengan terus memperbaiki ketaatannya dan mengejar kebaikan-kebaikan lainnya.
Setiap keluarga mencetak generasi terbaiknya sebagai kontribusi peradaban Islam. Para orang tua menjadi teladan dan contoh yang baik, menyiapkan anak-anak mereka menjadi mutiara umat yang tak ternilai harganya.
Masyarakat pun memiliki semangat pengawasan (kontroling) di antara mereka. Saling mengingatkan (muhasabah), tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, serta menentang kemaksiatan, sehingga akan tercipta suasana keimanan yang kondusif dan menjauhkan individu dari perilaku menyimpang.
Negara pun demikian, berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Khilafah menerapkan syariat secara kaffah dan menegakkan persanksian yang tegas sesuai hukum Islam. Pergaulan bebas tidak akan dibiarkan, melainkan harus berjalan sebagaimana Allah mengaturnya. Kehidupan Islam akan mendatangkan rahmat bagi semesta alam. Allahumma ahyanaa bil Islam.
Social Plugin