Ilustrasi Pinterest
Oleh : Arsyila Putri
MediaMuslim.my.id, Opini_ Sepucuk surat menjadi saksi bisu kepergian anak berinisial YRB (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, yang mengakhiri hidup diduga karena tak mampu membeli buku dan pena. Merespons tragedi ini, KPAI menggelar case conference bersama Kemendikdasmen hari ini (4/2/2026) untuk mendalami faktor ekonomi, pola asuh, hingga dugaan perundungan di lingkungan sekolah.
Dalam surat tersebut tertulis "Kertas tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti). Mama Galo Zee (Mama pelit sekali). Mama molo ja'o galo mata mae Rita ee mama (Mama baik sudah, kalau saya meninggal mama jangan nangis). Mama jao galo mata mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis, juga jangan cari saya). Molo mama (Selamat tinggal mama)."
Peristiwa meninggalnya korban pun diketahui pada Kamis (29/1/2026) pukul 11.00 WIB di dekat pondok milik neneknya. Di sebuah pohon cengkih, korban ditemukan tergantung oleh neneknya yang hendak mengikat kerbau. (tirto.id)
Anak-anak Darurat Kesehatan Mental
Peristiwa anak-anak yang memilih mengakhiri hidupnya akhir-akhir ini. Tentu ini menjadi alarm moral dan sosial bagi para orang tua masyarakat terutama negara untuk mengevaluasi apa saja penyebab kasus bundir pada anak-anak terus berulang setiap tahunnya. Bahakan menjadi yang tertinggi di Asia.
Seorang anak yang seharusnya dalam fase tumbuh, belajar, merasakan kasih sayang penuh, dan perlindungan justru berada dalam posisi rentan secara emosional. Banyak fenomena nak-anak terganggu kesehatan mental, tandanya mulai terlihat ketika terjadi perubahan emosional, perubahan sikap, prilaku dan perubahan suasana hati seperti cemas, agresif, sedih yang berlarut-larut serta berpotensi menyakiti diri yang berujung kepada bunuh diri. Tentu ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul, namun ada beberapa faktor penyebab terjadinya terganggunya kesehatan mental anak-anak.
Ada beberapa faktor penyebab rusaknya mental anak-anak:
Pertama faktor individu, muncul faktor tersebut akibat lemahnya keimanan, tak percaya diri, depresi, tidak yakin dengan diri sendiri, dan tidak menerima Qodho Allah. Sekuat apapun pengaruh dari luar tak akan bisa mengalahkan kuatnya pondasi keimanan.
Seperti faktor media sosial yang paling besar berpengaruh terhadap mental anak melalui tonton yang tidak sehat dan banyaknya konten-konten negatif yang efeknya dilihat, ditiru dan dipraktekkan oleh anak-anak.
Tidak heran karena tidak ada filter dalam penggunaan media saat ini, mudah di akses dan tidak mengenal batas usia.
Kedua faktor dari luar seperti orang tua dan lingkungan. Pola asuh yang salah oleh orang tua juga bisa menjadi penyebab anak-anak mudah terganggu mentalnya. Realita hidup dalam sistem yang menguras keringat, orang tua banting tulang demi bertahan hidup sampai lupa ada anak yang seharusnya butuh pendidikan, kasih sayang serta penguatan aqidah yang kokoh.
Lingkungan dan teman juga bisa menjadi penyebab rusaknya mental anak, banyak kasus bullying yang menelan banyak korban, dan para pelakunya adalah anak-anak dibawah umur.
Ketiga, faktor utama adalah negara yang abai akan masa depan generasi. Inilah fakta sesungguhnya bahwa tidak ada yang benar-benar bisa menjamin generasi hari ini menjadi generasi emas ketika negara tidak hadir dalam proses pembentukan calon generasi tersebut. Yang terjadi negara hanya hadir sebagai pencatat data statistik saja setelah tragedi.
Sistem pendidikan sekuler membuat anak-anak jauh dari agama membuat generasi hanya mengenal agama sebagai ibadah ritual bukan sistem aturan hidup.
Peristiwa ini seharusnya menjadi cambuk bahwa pendidikan gratis sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat dan perlu perbaikan bukan makanan gratis yang diutamakan. Karena pendidikan adalah tanggung jawab negara mulai dari kurikulum, bangunan, fasilitas buku dan peralatan sekolah serta kenyamanan dalam belajar. Meskipun hari ini sekolah gratis namun biaya hidup semakin mahal, maka pantaslah ketika ada seorang ibu yang tak mampu tidak bisa membelikan pena dan buku karena begitu sulitnya hari ini mencari pekerjaan. Sedangkan untuk mkan saja mereka tak mampu. Hidup dalam sistem ekonomi kapitalisme menyuburkan kaum elit namun mengeringkan rakyat cilik.
Bak mati di lumbung padi sendiri mendakan kondisi hari ini yang kaya sumber daya alam namun banyak rakyat mati kelaparan.
Solusi Islam
Islam memiliki mekanisme dalam membentuk generasi beriman, cerdas, tangguh, berakhlak mulia, dan rela berjuang.
Potensi anak muda tentu sangat luar biasa sehingga mereka harus di edukasi agar bisa melakukan perubahan. Tak hanya perubahan pada diri mereka sendiri namun perubahan pada lingkungan bahkan peradaban.
Dan pembentukan generasi beriman tidak hanya datang dari keluarga tapi juga negara hadir dalam proses pembentukan generasi cemerlang.
Pemimpin dalam Islam bertugas sebagai ra'in atau pelayanan bagi rakyat terutama dalam memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak adalah tanggung jawab negara sepenuhnya. Diterapkan nya sistem yang akan mengatur proses belajar mengajar dengan berlandaskan Al-Qur'an dan hadits mutawatir. Tak hanya membentuk pribadi yang beriman, seorang pemimpin juga akan memastikan lingkungan sekitarnya memiliki nilai-nilai islami. Aturan Islam diterapkan agar masyarakat bisa membedakan antara Haq dan bathil, halal dan haram.
Ketika terbentuk individu yang beriman dan masyarakat yang islami maka negara sebagai pelayan akan menyediakan fasilitas pendidikan dengan semaksimal mungkin. Memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat terutama para generasi muda calon pemimpin peradaban. Kekayaan alam dimanfaatkan dan dikelola oleh negara untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Menyediakan sekolah gratis dan memuliakan serta mensejahterakan para guru. Kesehatan gratis, lapangan pekerjaan banyak, harga bahan pokok makanan stabil tidak berubah-ubah.
Ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah maka kemaksiatan, kerusakan mental anak, kriminal akan minim bahkan hilang. Karena aturan hukum Islam sempurna dari Allah SWT. Apabila diterapkan mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi, jika ditinggalkan akan mendapat kehinaan.
Wallahu a'lam bisshawab.
Social Plugin