Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Mediamuslim.my.id, Opini--Setiap kali menjelang Ramadan, masyarakat Sidoarjo, Jawa Timur memiliki banyak budaya untuk menyambutnya, salah satunya adalah Nyadran. Diselenggarakan di Desa Balongdowo, Candi, Sidoarjo. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan, khususnya hasil laut dan bumi yang menjadi sumber penghidupan warga setempat (medcom id, 9-2-2026).
Tahun ini, Nyadran dilaksanakan tanggal 8 Februari 2026, rangkaian kegiatan diawali dengan mengarak gunungan berisi aneka hasil bumi. Gunungan yang telah diarak kemudian menjadi rebutan warga karena dipercaya membawa berkah. Selain itu, warga juga mengikuti konvoi perahu menuju laut sebagai bagian dari prosesi utama tradisi nyadran.
Kemudian ada kegiatan ziarah ke makam Kanjeng Ayu Dewi Sekardadu, di Dusun Kepetingan Desa Sawohan Kecamatan Buduran, yang dicatat sejarah sebagai anak perempuan dari Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan sekaligus ibu kandung dari salah satu penyebar agama Islam di Tanah Jawa, yaitu Sunan Giri. Prosesi diawali tarian adat, arak-arak gunungan hasil bumi, hingga doa bersama di kawasan makam Kepetingan, memperlihatkan kuatnya harmoni budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat pesisir Sidoarjo.
Budaya Religi Berubah Jadi Bencana
Seiring perkembangan zaman, budaya religi yang ditujukan untuk ungkapan syukur dan permohonan agar tahun berikutnya keadaan lebih baik, kini bercampur dengan battle Sound Horeg. Dan tahun ini kembali muncul insiden perahu tenggelam karena tidak mampu menahan beban subwoofer yang beratnya hingga 1 ton. Meski tidak ada korban jiwa, namun menjadi pertanyaan adakah manfaatnya? Biaya ratusan juta yang dikeluarkan tak sebanding dengan kerusakan yang diakibatkan suara tinggi ribuan desil, rumah rusak, kaca pecah dan bisa jadi habitat sungai terganggu.
Kapolsek Candi Kompol Septiawan membenarkan adanya insiden tersebut. Setelah proses evakuasi tidak ada arahan yang berarti untuk menghentikan aktifitas battle Sound Horeg itu. Meski nyata di depan mata, para pemuda yang berjoged di atas perahu mayoritas mabok karena mengkonsumsi minuman keras. Akibatnya, banyak kejadian gelut atau saling pukul hanya karena sebab sepele, kesadaran mereka hilang akibat dari minuman keras. Belum ditambah dengan aktifitas ikhtilat atau bercampur baur tanpa ada kepentingan yang dibenarkan syariat. Mirisnya kebanyakan adalah anak muda, yang semestinya yang paling membela agama, karena kekuatan tenaga dan pikiran mereka. Mereka malah terjebak dalam gaya hidup mubazir, condong kepada cara pandang kaum kafir.
Sungguh ironi, negeri dengan mayoritas penduduknya muslim namun tak risih dengan budaya yang mengatasnamakan religi namun bercampur dengan aktivitas kemusyrikan hingga minum minuman beralkohol, yang dalam Islam sangat diharamkan. Tawasul dengan makna mendekatkan diri kepada Allah, menjadi bergeser dari makna sebenarnya karena meminta kepada selain Allah. Biasanya ulama-ulama yang sudah meninggal dunia atau tokoh-tokoh dalam sejarah yang dianggap memiliki kelebihan ilmu ataupun kekuasaan pada masanya. Apalagi ucapan syukur sudah kehilangan makna yang sebenarnya.
Di Indonesia sangat kental dengan aktivitas ziarah ke makam-makam. Alasannya hanya tawasul, bukan meminta kepada yang sudah meninggal tapi tetap meminta kepada Allah dengan perantaraan orang yang meninggal karena keulamaannya atau pamor kekuasaannya. Dengan harapan lebih bisa dikabulkan. Lantas apa bedanya dengan agama Nasrani yang juga meminta kepada makhluk lain agar sampai kepada Tuhan? Dan perilaku menyimpang ini tak hanya terjadi hari ini, melainkan sejak lama.
Allah SWT. mengabadikan tingkah manusia terdahulu dalam firmanNya sebagai berikut,” Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (TQS Az-Zumar:3).
Sistem Kapitalisme yang hari ini diterapkan semakin menyuburkan perilaku syirik ini dengan alasan kearifan lokal guna mendongkrak sektor pariwisata. Tak ada halal haram, yang tampak hanya keuntungan. Urusan perut, bagi masyakarat yang pemikirannya sudah jumud memang yang utama dibandingkan akidah. Padahal ada banyak kewajiban dalam Islam yang harus ditegakkan.
Di antaranya adalah dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Tak ada satu pun manusia yang luput dari kewajiban ini sepanjang telah baligh dan memiliki ilmu. Masalahnya negara tidak memperhatikan ini, sebab watak kapitalisme hanya mengagungkan peroleh materi, perekomian masyarakat didorong untuk mandiri, sementara peran negara diminimalisir. Padahal, jika negara hadir dengan makna yang benar, tak akan mungkin rakyat dibuatkan hidup dari hasil kemusyrikan. Sebab pasti tak akan berkah dan malah mengundang azab yang pedih.
Islam Tak Normalisasi Aktivitas Musyrik
Jaminan kesejahteraan dalam pandangan Islam adalah dari pihak negara. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. ,“Seorang pemimpin atau kepala negara adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Negara akan membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin agar rakyatnya bisa memberi nafkah secara makruf, halal dan toyyibah. Pintu-pintu kesyirikan ditutup, termasuk sektor wisata yang mengunggulkan kegiatan klenik, mistis dan syirik yang semuanya bermuara kepada perilaku menuhankan selain Allah, yang bakal berdampak terguncangnya akidah seseorang. Dan Islam samasekali tak memberi toleransi apalagi normalisasi pada sikap yang menyimpang dari syariat.
Bagi yang uzur, negara akan memberi santunan dari Baitulmal, harta di dalamnya sangat berlimpah, sebab negara menjadi pihak satu-satunya yang mengelola sumber daya alam dan harta kepemilikan umum. Haram hukumnya diserahkan atau diprivatisasi kepada pihak swasta, sebagaimana yang terjadi hari ini. Negara juga akan mendorong adanya riset dan teknologi, agar perkembangannya dapat dimanfaatkan negara untuk kemaslahatan rakyat.
Dari sisi pendidikan negara akan menggunakan kurikulum berbasis akidah, yang menjadikan setiap orang memiliki kepribadian Islam, dimana akal dan nafsu selaras dengan syariat Islam. Di dalam masyarakat tumbuh subur aktifitas amar makruf nahi mungkar, agar setiap hal yang bertentangan dengan syariat tidak dibiarkan tumbuh subur hingga mengguncang akidah. Hingga yang berlaku adalah Laa Ilahaillah, tiada Tuhan selain Allah.
Kebutuhan pada Khilafah sudah semakin mendesak, ini adalah kewajiban seluruh kaum muslim agar berkah Allah dengan karunia kekayaan alam yang berlimpah, tidak sia-sia. Agar iman yang kuat ditemui dalam setiap dada kaum muslim dan kesyirikan berganti dengan kemuliaan. Inilah sejatinya, ungkapan rasa syukur yang benar. Wallahualam bissawab. [ry].

Social Plugin