Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini — لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS Al-Ahzab [33]: 21)
Allah telah menunjukkan kepada kita satu sosok yang layak menjadi teladan dalam menjalani kehidupan: Rasulullah ﷺ.
Maka, ketika ingin mengetahui seperti apa Islam itu, kepada siapa kita harus melihat?
Kepada seorang tokoh? Kepada ulama? Kepada pemimpin? Atau kepada Rasulullah ﷺ?
Kita tentu boleh mengagumi orang-orang saleh, belajar kepada ulama, dan mengambil hikmah dari para pemimpin Muslim. Namun, tidak ada seorang pun yang menjadi standar kebenaran Islam.
Sebab manusia bisa benar dan bisa salah. Sedangkan Islam berasal dari Allah dan telah Dia sempurnakan:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian...”
(QS Al-Maidah [5]: 3)
Karena itu, tidak ada “Islam ala tokoh”. Justru tokohlah yang harus diukur dengan Islam. Bukan Islam yang diukur berdasarkan siapa tokohnya.
Lalu, mengapa Rasulullah ﷺ menjadi teladan?
Karena beliau bukan sekadar menyampaikan Islam. Beliau menjalankan Islam. Beliau shalat, berpuasa, berkeluarga, berdagang, mendidik, bermasyarakat, memimpin, mengatur urusan umat, dan menyelesaikan berbagai persoalan berdasarkan wahyu Allah.
Maka mengikuti Rasulullah ﷺ tentu tidak cukup hanya dengan meneladani ibadah ritual beliau.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS Ali Imran [3]: 31)
Perhatikan: cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ.
Pertanyaannya: sejauh apa kita mengikuti beliau?
Apakah hanya pada perkara yang kita sukai?
Apakah hanya dalam urusan ibadah pribadi?
Ataukah dalam seluruh aspek kehidupan yang telah Allah atur?
Di sinilah kita memahami makna kaaffah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS Al-Baqarah [2]: 208)
Islam bukan sekadar identitas. Bukan pula sekumpulan nilai yang boleh kita ambil sebagian dan tinggalkan sebagian.
Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan manusia lainnya.
Islam mengatur ibadah sekaligus keluarga. Mengatur akhlak sekaligus muamalah. Mengatur kehidupan individu sekaligus kehidupan masyarakat dan pemerintahan.
Kaaffah bukan berarti kita telah menjadi manusia sempurna. Kaaffah berarti kita menerima Islam sebagai satu kesatuan yang sempurna dari Allah, lalu berusaha tunduk kepadanya secara utuh.
Sebab jika Allah adalah Rabb kita, bukankah semestinya aturan-Nya kita terima?
Jika Rasulullah ﷺ adalah uswah kita, bukankah kehidupan beliau menjadi pedoman?
Dan jika kita mengaku mencintai Allah, bukankah seharusnya kita mengikuti Rasulullah ﷺ, bukan hanya pada bagian yang sesuai dengan keinginan kita?
Di sinilah keimanan benar-benar diuji.
Ketika aturan Allah sesuai dengan keinginan, ketaatan terasa mudah. Namun ketika syariah berbenturan dengan kebiasaan, kepentingan, atau kenyamanan kita, siapa yang menjadi standar?
Allah memberikan jawabannya:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
(QS An-Nisa [4]: 59)
Maka tugas kita bukan mengubah Islam agar sesuai dengan kehidupan kita.
Tugas kita adalah mengubah kehidupan kita agar sesuai dengan Islam.
Mulailah dengan belajar. Benahi pemahaman. Tundukkan keinginan kepada wahyu. Ajarkan Islam kepada keluarga. Hidupkan Islam di tengah masyarakat.
Rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ akan mendorong kita untuk membuktikannya, yaitu dengan mengikuti beliau.
Bukan hanya sebagian.
Tetapi secara kaaffah.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang benar-benar menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai uswah, tunduk kepada syariah-Nya, dan berusaha menghadirkan Islam dalam seluruh kehidupan.
اللهم آمين.
Social Plugin