Daerah Tinggi Stunting SPPG Sangat Minim, Adilkah?

 

Ilustrasi: Stunting (pinterest)

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

MediaMuslim.my.id, opini--“Kenapa satu kesalahan program MBG terlihat lebih besar di media sosial  daripada seribu manfaatnya?” Demikian kata-kata seorang konten kreator di sebuah  reel Instagram. Ternyata sudah sedemikian buruk reputasi MBG, ribuan mereka yang menolak, baik sekolah, mahasiswa, guru, para orangtua hingga masyarakat,  tetap saja ada yang membela. Seolah MBG ini hanya satu-satunya program yang bisa menyelesaikan masalah gizi dan stunting.  Bisa jadi mereka harus lebih dalam menggali fakta di lapangan, dan menutup mata dari keharusan peka menilai fakta tersebut.

 

Dari seluruh rangkaian pulau-pulau di Indonesia yang membentang dari barat hingga timur, Papua masuk dalam 10 provinsi dengan angka stunting tinggi dan gizi buruk akut, sebagaimana disebut oleh Kementerian Kesehatan. Ironisnya, hanya ada  1 persen dapur MBG yang beroperasi di sana. Sementara, Jawa, wilayah dengan angka stunting terendah, justru jumlah dapurnya mencapai 53 persen (BBC.com, 28-7-2026).

 

Ketidakmerataan pembangunan dapur MBG semakin runyam dengan adanya tambahan data yang disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari,  ada 414 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menerima transfer anggaran namun SPPG itu belum beroperasi (kompas.com, 29-7-2026).

 

Menurut Qodari, penemuan itu tak hanya berhasil menyelamatkan kerugian negara,  tapi juga  menjadi keberhasilan dari pembenahan tata kelola program MBG yang dilakukan selama kepemimpinan Nanik Sudaryati Deyang ke Kepala BGN sebelum Sudaryono. BGN pun  sedang menjalankan reformasi lewat 11 langkah untuk memperkuat tata kelola MBG. Pembenahan itu diawali dengan evaluasi terhadap hampir 28.000 SPPG di seluruh Indonesia.

 

Hasilnya ada  sekitar 3.000 dapur berhasil diklarifikasi  berdasarkan standar kualitas dan keamanan pangan serta menata ekspansi pembangunan dapur dengan memprioritaskan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pemerintah memang berusaha terus menyempurnakan pelaksanaan program ini melalui pergantian kepemimpinan.

 

 Harapannya, BGN semakin lincah, dapat diandalkan, dan cepat merespons berbagai persoalan di lapangan. Pertanyaannya, mengapa baru masa kepemimpinan Sudaryono diadakan evaluasi besar-besaran? Apa karena pergantian pemimpin artinya beda perjanjian terutama bagi pihak pengusaha dengan kapital (modal) jumbo untuk mengamankan  bisnis mereka? 

 

Kapitalisme Gagal Mewujudkan Kesejahteraan

 

Dimana letak sejuta kebaikan program MBG sebagaimana pertanyaan di sebuah konten Instagram di atas? Semua bisa melihat secara kasat mata, program ini tidak benar-benar berfokus untuk menyelesaikan problem stunting dan gizi buruk. Indikator keberhasilan justru realisasi anggaran, hasil potong sana-sini  dan  bukan terselesaikannya problem yang menjadi latar belakang lahirnya program ini.

 

Tindakan korupsi para penggede Badan Gizi Nasional juga menunjukkan ini bukan program pengentasan kemiskinan tapi justru menjadi sarang ketamakan atas nama makan bergizi gratis. Sebagaimana program populis lainnya, meski Presiden Prabowo tetap keukeuh melanjutkan “Program Mulia” meski banyak yang menghujat, tetap di lapangan banyak anggaran tersedot untuk program ini. Sektor yang sangat butuh anggaran seperti pendidikan dan kesehatan di wilayah 3T,  justru terabaikan dan berdampak buruk pada kaum ibu dan generasi.

 

Benarkah presiden benar-benar melihat ke bawah dan bukan sekadar mendengar para pembisik licik di sekitarnya dengan data ABS ( Asal Bapak Senang)?  Sungguh, rakyat tidak butuh MBG, bahkan meski rakyat di desa tidak pakai Dollar, tetap setiap kebutuhan bisa dipenuhi dengan baik.  Yang jadi persoalan justru mengapa tega menjadikan program ini ajang bancakan kroni penguasa/pejabat? Kebijakan yang diresmikan sebelum pijakan hukumnya disahkan, yang kepala BGNnya sudah ditentukan padahal SPPGnya banyak yang fiktif karena dibangun melalui previle. 

 

Rakyat samasekali tidak diuntungkan,  karena sejatinya kebijakan dalam sistem kapitalisme hanya berorientasi pada pencitraan penguasa. Salah satunya untuk kepentingan kontestasi pada periode berikutnya serta bagi-bagi keuntungan untuk segelintir pihak yang berada di lingkaran pendukungnya. Ditambah sistem demokrasi,  menjadikan penguasa sibuk mengamankan barisannya dengan kebijakan yang menguntungkan mereka, bukan memikirkan nasib rakyat sebab biaya  politik demokrasi sudah jadi rahasia umum biaya mahal dan penggelembungan dana untuk biaya politik.

 

Sistem Islam Lebih Nyata Mewujudkan Sejahtera

 

Rasûlullâh saw. bersabda,“Imam/Khalifah adalah penggembala (raa’in), dan dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.”(HR. Bukhari dan Muslim), artinya,  penguasa dalam Islam bukan sekadar mereka yang menduduki jabatan serta memiliki kewenangan atau kekuasaan, melainkan  mereka adalah raa’in (pelayan umat)  sehingga mereka adalah orang yang paling  bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Setiap kebijakan yang ia sahkan akan dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat. Penderitaan satu orang rakyat pun akan diperhatikan, tidak ada yang diabaikan, apalagi menyangkut nyawa manusia. Sebab penguasa muslim sejati lebih takut azab Allah dibanding celaan manusia.

 

Sistem Islam kebijakan yang diterapkan berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan rakyat sehingga fokus pada penyelesaian masalah yang dihadapi rakyat, tidak sibuk dengan pencitraan. Selain itu, Pemilihan pemimpin (khalifah) dalam Islam mudah, efektif, dan efisien sehingga tidak butuh banyak biaya yang menghasilkan politik balas budi dengan mempermainkan anggaran kebijakan. Sistem kapitalisme yang berkelindan dengan sistem politik demokrasi inilah yang benar-benar mengacaukan segala hal, terutama fungsi riayah suunil umah ( mengurusi urusan rakyat). Saatnya kita mengenyahkan sistem yang batil dan menggantinya dengan sistem yang berasal dari Allah swt. Wallahualam bissawab.