Utang Meningkat Saat Lebaran

Ilustrasi Pinterest
Oleh Ida Paidah, S.Pd.

MediaMuslim.my.id, Opini_ PT. Pegadaian mencatat kenaikan nilai pinjaman gadai masyarakat menjelang Lebaran 2026, seiring meningkatnya kebutuhan dana selama periode Ramadan dan Lebaran. Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategi Pegadaian, Ferdian Timur Satyagraha mengatakan, rata-rata nilai pinjaman meningkat dibandingkan periode sebelumnya. 
Sebelumnya berada di kisaran Rp10 juta hingga Rp100 juta, selama Ramadan dan menjelang Lebaran tahun ini meningkat menjadi Rp15 juta hingga Rp10 juta, ujarnya kepada Kontan, Jumat ( 27/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga kebutuhan pokok serta nilai barang jaminan  seperti emas yang turut mengalami kenaikan. Hal ini berdampak pada peningkatan rata-rata nilai pinjaman masyarakat.
Utang keluarga naik karena daya tahan ekonomi sebagian rumah tangga Indonesia lemah, sementara harga barang naik, ongkos mobilitas bertambah, tekanan kurs, dan jaring pengaman sosial yang belum  sepenuhnya tepat sasaran.

Kapitalisasi momen Ramadan dan lebaran melahirkan tekanan sosial dan beban ekonomi bagi keluarga. Dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan industri untuk mendongkrak penjualan, yang secara signifikan mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi lebih tinggi.

Fokus Ramadan beralih dari transformasi spiritual (menahan hasrat) menjadi ajang konsumsi berlebihan, sehingga menuntut keseimbangan antara etika berdagang dan pemenuhan kebutuhan.

Di tengah rapuhnya daya beli keluarga, era digitalisasi memberikan alternatif solusi hutang yang makin membahayakan ekonomi keluarga. Perputaran ekonomi rakyat justru difasilitasi utang di tengah menurunnya pertumbuhan upah. Kondisi ini akan makin menjadikan keluarga bergantung pada hutang ribawi untuk memenuhi kebutuhan  rutin dan semi rutin.

Membangun Keberkahan Ramadan    

Supaya Ramadan Kembali pada nilai-nilai yang seharusnya, perlu ada solusi  konkret yang berbasis pada prinsip ekonomi Islam. Keluarga dan masyarakat membutuhkan sebuah sistem ekonomi yang mampu mensejahterakan, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif, yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi ekonomi yang merata di seluruh keluarga bukan hanya pemilik kapital.

Negara memiliki kewajiban untuk mengontrol distribusi barang pokok agar tidak dikuasai oleh kartel serta menjaga harga tetap stabil. Keseimbangan kebutuhan pokok akan membuat warga dan mayarakat nyaman dalam menjalankan ibadah Ramadan . 

Ketersediaan pekerjaan  yang layak bagi para ayah dan anak lelaki yang sudah baligh juga akan memberikan peran baik bagi kehidupan  keluarga, sehingga jalan pintas pegadaian, pinjol, atau yang lain tidak perlu dilalui oleh masyarakat.

Kapitalisasi ekonomi Ramadan sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan. Alih-alih menjadi bulan penuh keberkahan, Ramadan kini lebih identik  dengan  peningkatan konsumsi dan eksploitasi pasar. Islam tidak menolak perdagangan dan keuntungan, tetapi menuntut keseimbangan, keadilan, dan keberkahan.

Kekuatan sistem ekonomi ditopang dengan sistem politik Islam, untuk melepaskan ketergantungan negara dari globalisasi dan leberalisasi perdagangan sehingga negara mampu menerapkan ekonomi untuk membangun kesejahtraan bagi keluatga . Termasuk  akan mengembalikan momentum Ramadan dan Idulfitri sesuai dengan pandangan syariat, yaitu untuk mewujudkan ketakwaan bukan hanya pada tataran individu namun juga sistem negara.