Ilustrasi Pinterest
Oleh : Ummu Hayyan, S. P.
MediaMuslim.my.id, Opini_ Unjuk rasa besar-besaran terjadi di Amerika Serikat (AS) saat jutaan warga turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk No Kings pada Sabtu, 28 Maret 2026 waktu setempat.
Aksi protes ini menjadi sorotan dunia karena disebut sebagai salah satu protes terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Demonstrasi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk terkait perang di Iran dan kebijakan domestik yang dinilai kontroversial.
metrotvnews.com.
Menurut laporan Al Jazeera (29/3), aksi ini merupakan demonstrasi “No Kings” pertama sejak perang gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai sekitar satu bulan lalu. Aksi tersebut juga menandai gelombang ketiga protes nasional sejak Trump kembali menjabat untuk masa jabatan kedua.
Lebih dari 3.300 aksi berlangsung di seluruh 50 negara bagian, menjadikan protes ini sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir.
idnfinancials.com.
Saat ini diketahui, utang nasional Amerika Serikat (AS) resmi menembus US$ 39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026. Utang bengkak, menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran.
Beban ini menambah tekanan pada prioritas anggaran, dari pemotongan pajak, belanja pertahanan, hingga pengelolaan utang.
Sebagai catatan, populasi AS saat ini ada di angka 342,62 juta jiwa.
Dengan beban utang yang menumpuk maka utang per penduduk AS kini tembus US$113.875 atau sekitar Rp 1,93 miliar.
Artinya, per kepala warga AS atau setiap bayi yang baru lahir di AS akan menanggung beban utang Rp 1,93 miliar. www.cnbcindonesia.com.
Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) tercatat meningkat lebih cepat pada awal pemerintahan Donald Trump periode kedua dibandingkan pada fase awal masa jabatan pertamanya.
Selama dua abad terakhir atau dalam 200 tahun, perjalanan utang Amerika Serikat (AS) menunjukkan perubahan besar dalam arah ekonomi, politik, dan kebijakan fiskal negeri adidaya tersebut.
Dari titik di mana AS nyaris tanpa utang di awal abad ke-19, kini Negeri Paman Sam menanggung beban utang yang sangat besar. Hasil dari dua abad ekspansi ekonomi, pembiayaan perang, serta stimulus kebijakan di masa krisis.
AS kini menjadi negara dengan beban utang terbesar di dunia, melampaui gabungan beberapa negara maju seperti Jepang, Inggirs, dan Prancis.
Utang AS menanjak tajam seiring pembiayaan Perang Dunia I pada 1914 yang menambah beban menjadi US$2,9 miliar, dan meningkat drastis saat Perang Dunia II yang dimulai pada 1941 menjadi US$49 miliar.
www.cnbcindonesia.com.
Pasca perang dunia ke-2 inilah, Amerika Serikat menunjukkan dirinya sebagai negara adidaya berideologi kapitalisme.
Ambisi Trump dan Kebangkrutan AS
Sebagai negara ideologis, maka Amerika Serikat melakukan penyebaran ideologi untuk menancapkan hegemoninya. Kapitalisme menjadikan penjajahan, baik dalam bentuk militer, ekonomi, maupun politik sebagai metode ekspansinya. Maka tidak heran, Amerika Serikat sebagai negara berideologi kapitalisme memiliki anggaran militer terbesar di dunia. Kekuatan militer ini bukan sekedar alat pertahanan, melainkan instrumen strategis untuk menjaga dan memperluas hegemoni Amerika Serikat di berbagai kawasan yang berada dalam orbit pengaruhnya. Pola ini sangat mudah terlihat pada era kepemimpinan Trump yang penuh dengan ambisi menguasai dunia dengan kebijakan militernya. Buktinya tampak jelas pada kebijakan luar negeri Trump. Dukungan penuh Amerika pada Zionis tidak hanya dukungan finansial, suplai senjata, tetapi sampai legitimasi politik. Seperti mengakui Yerusalem sebagai ibukota Zionis, maupun mengarahkan berbagai perjanjian internasional untuk pro Zionis. Bahkan dalam kebijakan terbaru, Trump meresmikan Board of Peace, yang menempatkan Amerika Serikat pada posisi dominan dalam mengatur rekonstruksi Gaza.
Belum lagi sikap presiden Amerika Serikat, Trump yang bersekutu dengan Eropa dan negara-negara teluk yang notabene negeri Muslim, kompak memerangi Iran. Amerika Serikat melakukan ini demi mempertahankan pengaruhnya di kawasan tersebut. Kebijakan luar negeri Trump yang bertumpu pada ekspansi militer, jelas menuntut biaya yang sangat besar. Konsekuensinya, negara Amerika Serikat terjerat hutang yang berlipat ganda dan berpotensi menuju kebangkrutan.
Pengkhianatan Para Penguasa Negeri-negeri Muslim
Kebijakan Trump pada akhirnya membuka mata dunia dan warga Amerika Serikat terhadap pola hegemoni kapitalisme global dan kejahatan Trump. Hegemoni Trump tidak akan berjalan tanpa dukungan atau legitimasi dari aktor lain di tingkat global. Pada faktanya, banyak penguasa negeri-negeri muslim justru berkhianat kepada umat dengan menjadi sekutu Amerika Serikat. Melalui sistem politik demokrasi, Amerika Serikat pun bisa mengontrol kebijakan negeri-negeri kaum muslimin agar sesuai dengan kepentingannya.
Momentum Kesadaran Politik Umat
Karena itu, berbagai peristiwa politik ini harus dipandang oleh kaum muslimin secara politis, sesuai kacamata syariah. Hegemoni Amerika Serikat dan politik demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan antar bangsa. Umat Islam dan penguasa muslim menjadi korban adu domba, demi kepentingan Amerika Serikat. Fakta bersekutunya sebagian penguasa negeri muslim dengan Amerika Serikat tidak dapat dipandang sebagai sekedar pilihan politik biasa, melainkan sebagai bentuk pengkhianatan yang harus diakhiri.
Hanya saja, kesadaran politis ini membutuhkan sebuah proses yang tidak hanya menuntut penguatan literasi politik, tetapi juga harus dibarengi dengan edukasi tentang politik Islam, sistem Islam, dan kepemimpinan islam. Upaya ini harus dimasifkan agar umat mampu membaca realitas Global secara kritis, tidak mudah terpengaruh oleh arus kepentingan negara adidaya, serta memiliki arah perjuangan yang jelas dalam menghadapi dinamika politik dunia. Tak hanya itu, kesadaran politik ini juga akan mengarahkan umat dan penguasa muslim untuk melakukan aktivitas dakwah politik. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.
Rasulullah mengajarkan kepada kaum muslimin, bahwa mereka wajib memiliki institusi negara untuk menerapkan, menjaga, dan menyebarkan syariat Islam. Atas izin Allah, Rasulullah mendapatkan nushroh atau pertolongan melalui Sa'ad bin Mu'adz hingga Rasulullah berhasil mendirikan Negara Islam pertama di Madinah. Negara Islam ini dilanjutkan oleh para sahabat eksistensinya dan para pemimpin Islam. Di bawah naungan negara Islam inilah, kebatilan dan kezaliman akan sirna. Karena itu, sudah semestinya arah perjuangan kaum muslimin termasuk penguasanya mengikuti dakwah Rasulullah agar negara Islam tegak kembali, sehingga tatanan dunia yang rusak diganti dengan tatanan syariat Islam. Wallahu a'lam
Social Plugin