Ilustrasi Pinterest Pngtree
Oleh : Ummu Zeyn

MediaMuslim.my.id, Opini_ Kebahagiaan yang seharusnya menyelimuti sebuah pesta pernikahan berubah menjadi tragedi memilukan. Sebuah hajatan pernikahan yang berlokasi di Desa Kertamukti, kecamatan Campaka, Purwakarta pada Sabtu (4/4/2026) mendadak berujung maut setelah terjadi aksi penganiayaan yang melibatkan sekelompok preman.

Dadang (57), sang pemilik hajatan, tewas mengenaskan setelah dikeroyok sekelompok preman di hadapan para tamu dan anaknya yang sedang duduk di pelaminan karena tidak menuruti permintaan para preman untuk memberinya uang jatah yang dimintanya untuk membeli minuman keras.

Kasus kekerasan seperti ini bukan kali pertama terjadi, ada banyak kasus kekerasan yang dilakukan sekelompok preman yang tentunya menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Adanya aksi premanisme seperti ini sungguh sangat merugikan bagi warga, dan seolah dianggap sebagai hal biasa.

Premanisme bukan sekadar penyimpangan individu. Ia adalah gejala. Dan gejala itu menunjukkan satu hal: ada yang salah dengan sistem hidup yang melahirkannya. Dalam konteks hari ini, sulit untuk menutup mata bahwa sekularisme-liberalisme telah menjadi rahim yang subur bagi tumbuhnya praktik premanisme.

Sekularisme memaksa agama keluar dari ruang publik. Agama direduksi menjadi urusan pribadi—tidak boleh mengatur ekonomi, politik, apalagi hukum. Akibatnya, standar benar dan salah tidak lagi bersandar pada wahyu, tetapi pada kesepakatan manusia yang mudah berubah.

Di titik inilah masalah bermula.
Ketika tidak ada lagi rasa takut kepada Tuhan dalam kehidupan publik, maka yang tersisa hanyalah satu hukum: siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Premanisme adalah manifestasi paling vulgar dari logika ini. Mereka tidak butuh legitimasi moral, cukup kekuatan untuk menekan dan menguasai.

Jika hari ini preman memalak di jalanan, acara hajat, di pasar, bukankah itu cerminan dari praktik yang lebih “halus” di level elite—korupsi, monopoli, dan penyalahgunaan kekuasaan? Bedanya hanya pada cara, bukan pada substansi.

liberalisme dan Ilusi Kebebasan

Liberalisme menjanjikan kebebasan. Namun kebebasan yang tanpa batas justru melahirkan kekacauan. Ketika setiap orang merasa berhak mengejar kepentingannya tanpa rambu yang jelas, maka benturan kepentingan menjadi tak terelakkan.
Dalam situasi seperti ini, yang terjadi bukanlah kebebasan sejati, melainkan hukum rimba.

Premanisme tumbuh subur dalam iklim seperti ini. Ia adalah bentuk “kebebasan” yang kehilangan arah—kebebasan untuk menindas, memeras, dan mengintimidasi. Ironisnya, sistem yang sama sering kali gagal menghentikannya secara tuntas.

Negara Lemah, Preman Menguat

Dalam sistem sekular, negara sering kali kehilangan ruh moralnya. Hukum ditegakkan bukan sebagai amanah, tetapi sebagai instrumen kekuasaan yang bisa dinegosiasikan.
Ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka masyarakat kehilangan kepercayaan. Di ruang kosong itulah premanisme mengambil alih. Mereka menjadi “penguasa lokal” yang mengatur wilayah dengan logika kekuatan. Ini bukan sekadar kegagalan aparat. Ini adalah kegagalan sistemik.

Islam: Bukan Sekadar Moral, tetapi Sistem Hidup

Islam tidak hanya datang membawa nasihat moral. Ia hadir sebagai sistem hidup yang utuh. Tidak ada pemisahan antara agama dan kehidupan. Hukum, ekonomi, sosial—semuanya diatur dengan standar yang jelas: halal dan haram.

Dalam Islam, premanisme bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi bentuk kezaliman dan kerusakan (fasad) yang harus diberantas hingga ke akar. Tidak ada toleransi bagi tindakan yang merampas hak orang lain, apalagi dengan kekerasan.

Lebih dari itu, Islam tidak berhenti pada menghukum pelaku. Ia membangun sistem yang mencegah lahirnya kejahatan sejak awal:
Individu dibentuk dengan akidah yang kuat, sehingga takut berbuat zalim.
Masyarakat didorong untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Negara diwajibkan menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu.
Dengan pendekatan ini, premanisme tidak hanya ditekan, tetapi dicegah.

Terus menyalahkan individu tanpa mengoreksi sistem adalah bentuk ketidakjujuran intelektual. Selama sekularisme-liberalisme tetap menjadi fondasi kehidupan, maka premanisme—dalam berbagai bentuknya—akan terus muncul, bahkan beregenerasi.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin terus memotong ranting, atau mulai mencabut akar?

Premanisme bukan sekadar masalah kriminalitas. Ia adalah cermin dari sistem yang kehilangan arah moral dan spiritual. Sekularisme-liberalisme telah gagal menghadirkan ketertiban yang berkeadilan, karena menyingkirkan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan manusia.

Islam menawarkan jalan yang berbeda—bukan sekadar menambal kerusakan, tetapi membangun ulang fondasi kehidupan.

Wallahu A'lam BI Ash-Shawwab