Oleh Nurul Fadhilah
Sekarang ini, hidup sebagai remaja rasanya enggak bisa lepas dari media sosial. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, handphone selalu ada di tangan. Kita pakai media sosial buat hiburan, ngobrol sama teman, atau sekadar pamer eksistensi. Rasanya, kalau nggak update, kayak ada yang kurang.
Menurut laporan We Are Social dan Data Reportal (2024), pengguna internet di Indonesia sudah lebih dari 200 juta orang, dan sebagian besar adalah remaja. Kompas.com juga bilang, rata-rata remaja menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial. Jadi wajar kalau pengaruh dunia digital itu terasa banget dalam hidup kita.
Tapi, di balik keseruan itu, ada sisi yang harus kita perhatikan. Banyak teman saya yang merasa harus selalu tampil sempurna dan keren di media sosial. Tanpa sadar, mereka membandingkan diri dengan orang lain, dan akhirnya muncul rasa nggak cukup baik atau kurang percaya diri.
Di sinilah tantangan terbesar, apakah kita cuma ingin viral, atau ingin jadi pribadi yang benar-benar bernilai? Enggak semua yang viral itu baik, dan nggak semua yang terlihat perfect di media sosial itu nyata. Kalau enggak punya prinsip, gampang banget kita terbawa arus dan malah kehilangan diri sendiri.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk enggak berlebihan. Allah Swt. berfirman,
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Artinya, ikut tren boleh, tapi jangan sampai kelewatan. Allah juga berfirman,
“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menjaga pandangannya…” (QS. An-Nur: 30)
Jadi penting banget buat kita pilih-pilih apa yang kita lihat dan bagikan di media sosial karena itu bakal memengaruhi diri kita. Rasulullah saw. juga mengingatkan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Solusinya, menurut saya, remaja bisa mulai lebih sadar pakai media sosial. Enggak usah ditinggalin sama sekali, cukup pakai dengan baik, batasi waktu, dan pilih konten yang bermanfaat. Memperkuat iman juga penting, biar kita punya pegangan di tengah berbagai pengaruh.
Jadi, jadi remaja kekinian itu bukan soal siapa paling viral, tapi siapa yang bisa tetap jadi diri sendiri di tengah derasnya arus digital. Orang yang benar-benar berharga itu bukan yang paling sering muncul di feed, reels, atau yang lainnya tapi yang punya akhlak baik dan prinsip hidup yang kuat.
Sebagai penutup saya ingin membawakan pantun.
Jalan-jalan ke kota lama, tak lupa membeli buah delima.
Viral bukan tujuan pertama, akhlak mulia itulah yang utama.

Social Plugin