Kapitalisme di Ujung Kehancuran


Ilustrasi Pinterest
Oleh. Maftucha S. Pd

MediaMuslim.my.id, Opini_ Peradaban kapitalisme yang diusung oleh Amerika sudah semakin terlihat kebobrokannya. Ibarat pepatah "Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga". 

Kapitalisme dengan berbagai pemikirannya telah dipaksakan kepada seluruh umat manusia untuk diterapkan dalam kehidupan, baik level individu, masyarakat, maupun negara. Padahal sistem ini telah melahirkan berbagai aturan yang menyengsarakan manusia. 

Kapitalisme di Ambang Kehancuran 

Satu per satu skandal bobrok yang melibatkan para elit global telah terungkap ke tengah publik. Kasus Epstein, serangan AS ke Iran yang menewaskan 156 siswi tak berdosa, pemaksaan kebijakan kepada negara-negara berkembang, hingga berlanjut demo bertajuk "No Kings" yang diikuti hingga 8 juta warga AS. 
Ini bukanlah fenomena biasa yang kita lihat sebagai rutinitas berita internasional. Tapi, ini adalah suara kebenaran yang tidak lagi bisa dibendung oleh kejahatan. Kepongahan dan kerakusan sistem kapitalisme ini sudah berada di titik klimaksnya. 

Perang AS vs Iran juga menunjukkan bahwa Amerika tidak lagi memiliki kekuatan dan kemampuan militer yang selama ini diopinikan kepada dunia bahwa kekuatan militer AS tidak tertandingi oleh siapapun. Sistem kapitalisme yang diusung AS hanya tinggal menunggu waktu untuk shut down. 

Sistem Kapitalisme Biang Masalah Kerusakan 

Konsep ekonomi kapitalisme yang mengedepankan kebebasan menjadi racun paling mematikan bagi kehidupan masyarakat di dunia. Sistem ini hanya memberikan kesempatan kepada yang memiliki modal untuk menguasai kekayaan alam yang sejatinya adalah milik masyarakat. 

Sebuah studi oleh World Institute for Development Economics Research di Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa 1% orang dewasa terkaya memiliki 40% aset global di tahun 2000,dan 10% orang dewasa menguasai 85% dari total kekayaan dunia. Sebaliknya, separuh orang dewasa di dunia hanya memiliki 1% kekayaan global. (Wikipedia) 

Hal ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi kapitalisme yang telah diadopsi seluruh negara-negara di dunia telah menyebabkan kesenjangan ekonomi yang luar biasa. Sistem ini tidak bisa menciptakan keadilan dan kesejahteraan yang merata.

Sistem ekonomi kapitalisme menjadikan kekayaan alam yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat secara luas berganti hanya bisa dinikmati oleh siapa saja yang memiliki modal atau kekayaan serta memiliki pengaruh pada pemangku kebijakan. 

Kesenjangan ekonomi ini tidak hanya terjadi pada seluruh negeri-negeri yang sedang berkembang seperti Indonesia. Namun, Amerika juga turut terkena dampaknya, di mana tunawisma sudah banyak bermunculan. Kalaulah secara ekonomi terlihat baik-baik saja, akan tetapi sejatinya secara kedaulatan negeri tersebut tetap dalam cengkeraman kapitalisme. 

Negara-negara di Timur Tengah adalah contohnya, secara ekonomi mereka terlihat mapan. Namun, mereka dalam kendali penuh AS. Kedaulatan dan kebijakan mereka tidak bisa lepas dari intervensi AS sebagai negara yang mengemban sistem kapitalisme. 

Melepaskan Cengkeraman Kapitalisme 

Belajar dari kasus perang yang saat ini terjadi antara Israel, AS, dan Iran, melepaskan diri dari cengkeraman negara yang mengemban kapitalisme seperti AS tidaklah semudah membalik telapak tangan. AS akan memastikan setiap negara-negara yang ada di dunia ini tunduk di bawah arahannya. 

Dia akan menjadikan antek-anteknya sebagai pemimpin di negara tersebut dan menuruti segala arahan dari AS. Jika sedikit saja anteknya berkhianat dia akan menumbangkannya. Hal ini secara terang-terangan telah disampaikan oleh AS bahwa mereka-lah yang mengatur permainan catur di setiap negara yang dijajah oleh AS. Lihatlah bagaimana Saddam Husein, Muammar Gaddafi, Nicolas Maduro, Fidel Castro, dst telah ditumbangkan oleh AS. 

Amerika turut selalu turut campur dalam urusan kepemimpinan negara-negara yang memang secara kedaulatan tidak merdeka. Indonesia juga menjadi salah satu dari negara yang didikte AS. Banyak kebijakan yang tidak pernah pro dengan rakyat dan sebaliknya hanya menguntungkan AS atau para pemilik modal. 

Maka dunia hari ini harus melepaskan cengkreman dan hegemoni AS di negara mereka karena menerapkan sistem kapitalisme tidak akan membawa kepada kesejahteraan, kedamaian di dunia ini. Perdamaian versi mereka adalah ketundukan, jika tidak maka yang ada adalah peperangan. 

Tatanan Kehidupan yang Baru

Melawan hegemoni sistem kapitalisme hanya bisa dilakukan jika negara tersebut sudah memiliki sistem atau ideologi yang lain. Hanya ada tiga ideologi di dunia ini, sosialisme, kapitalisme, dan Islam. 

Sosialisme sudah hancur dan kapitalisme diambang kehancuran. Pilihan terakhir adalah Islam. Ini bukanlah sebuah pilihan yang karena keterpaksaan. Akan tetapi, ideologi Islam adalah ideologi yang paling ideal untuk diterapkan. 

Secara historis peradaban Islam sudah pernah ada dan meninggalkan jejak peradaban yang gemilang. Ideologi Islam dengan sistem kekhilafahannya akan mengikat seluruh negeri-negeri muslim menjadi satu kepemimpinan, dan tidak menutup kemungkinan juga negara-negara di luar Islam untuk bergabung di dalamnya. 

Selain itu, jumlah umat Islam di dunia ini mendominasi, adalah wajar jika umat Islam menerapkan sistem atau ideologi yang bersumber dari keyakinan atau akidahnya. Yakni menerapkan syariat Islam secara menyeluruh baik dalam aspek politik, militer, ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik luar negeri dan seterusnya. 

Allah SWT berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu." (Q.S Al-Baqarah ayat 208)

Hanya sistem kekhilafahan saja yang bisa mewujudkan semua itu. Hanya peradaban Islam yang bisa mewujudkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi umat manusia karena sistem ini bersumber dari Zat yang menciptakan seluruh alam semesta ini, yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk umat manusia. Wallahu a'lam bishawab. []