Oleh : Ummu Ghoza
Bulan Ramadan yang identiknya disebut syahru mubarok diharapkan membawa banyak keberkahan. Namun, setelah banjir, sebanyak 91.953 warga Aceh masih mengungsi. Ada 118 titik pengungsian. Sebanyak 51 titik pengungsian di Kecamatan Tanah Jambo Aye, 35 titik pengungsian di Langkahan, dan 13 titik pengungsian di Sawang. Sehingga masih dibutuhkan logistik dalam jumlah besar. (Kompas.com, 9/2/2026)
Memang, tak dapat dimungkiri bahwa perbaikan infrastruktur terus diupayakan. Salah satunya peresmian 200 Jembatan Garuda oleh Kepala Staf Angkatan Darat beberapa waktu lalu. (Detik.com, 10/3/2026)
Meski demikian, masyarakat terus menunggu upaya cepat dari pemerintah agar mereka dapat beraktivitas seperti biasanya. Suasana Ramadan ini harus dilalui dengan kesabaran karena ribuan warga Aceh masih tinggal di pengungsian. Huntara belum rampung, diperparah lagi dengan beberapa kabupaten, listrik belum menyala. Warga hanya bisa menggantungkan pada bantuan masyarakat karena mereka belum bisa bekerja lagi. Ironisnya, bantuan dari pemerintah lambat. Sehingga ketahanan pangan korban bencana sangat rapuh.
Pada bulan yang spesial, bulan penuh kebaikan, bulan suci Ramadan, negara sepertinya masih abai terhadap nasib korban bencana Sumatra, terutama Aceh. Pemerintah mengklaim sudah melakukan berbagai kebijakan untuk rekonstruksi pascabencana, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat tidak mendapatkan kepengurusan yang memadai.
Negara tidak menjalankan tugasnya dengan baik sehingga kondisi wilayah bencana tidak kunjung pulih. Penyebabnya, kepemimpinan kapitalistik menjadikan kebijakan bersifat pencitraan, tidak solutif. Berakar dari sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan dari agama dan hanya mengejar materi sesaat. Sehingga nasib korban bencana saat ini masih terkatung-katung penuh air mata.
Dalam Islam, negara harusnya sangat memperhatikan kebutuhan warganya termasuk dalam beribadah. Ramadan akan disuasanakan secara serius agar rakyat bisa optimal beribadah. Sebab, umat Islam berharap pada Ramadan bahwa semua amal dapat diterima karena ini merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan.
Selain itu, negara harusnya menaruh perhatian khusus pada wilayah bencana. Kebijakan, anggaran, dan SDM dikerahkan untuk segera merekonstruksinya. Visi kepengurusan pada negara harusnya menjadikan kebijakan dan pengelolaan anggaran untuk wilayah bencana yang bersifat efektif dan solutif. Negara tidak membatasi anggaran untuk rekonstruksi bencana, selalu ada dana untuk bencana, baik dari pos pemasukan yang bersifat tetap maupun pos lainnya.
Itu gambaran perintah Islam kepada negara dalam mengurusi rakyatnya. Terlebih lagi pengaturan Islam untuk korban bencana. Oleh karena itu di bulan spesial ini, saatnya menjadi momentum kembali pada aturan Allah dengan menjadikan puasa sebagai perisai dan menjadi orang yang bertakwa.
Jika penguasa dan umat negeri ini bertakwa, mereka akan selalu taat pada semua hukum-hukum Allah. Tidak ada yang menerima Islam hanya hukum shaum dan salat saja. Tetapi juga harus menerima hukum Allah dalam muamalah, politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan atau kehidupan sosial. Allah Swt. berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).
Adanya bencana alam di masa lalu harusnya juga menjadikan diri dan negeri ini bermuhasabah. Bahwasanya, ketika hidup tidak berjalan sesuai dengan syariat-Nya, maka ketenangan hidup akan sulit didapatkan. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang-orang yang beriman menerapkan aturan Allah tidak hanya dalam ibadah spiritual, melainkan juga dalam aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Wallahu a'lam bishawab. []

Social Plugin