Ilustrasi Pinterest
Oleh: Ami Ammara
MediaMuslim.my.id, Opini_ Pemerintah mengambil langkah tegas dalam menangani krisis kesehatan jiwa anak di Indonesia. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama delapan pimpinan Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak.
Menteri PPPA menjelaskan pihaknya telah melakukan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, yang salah satu poin utamanya menyoroti masalah kesehatan jiwa. Berdasarkan survei tersebut, ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari angka tersebut, sebanyak 62,19 persen di antaranya juga mengalami kekerasan, baik secara fisik, emosional, maupun seksual, dalam 12 bulan terakhir.
Sistem Sekuler dan Krisis Jiwa Generasi
Meningkatnya krisis kesehatan jiwa pada anak tidak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan yang sedang berjalan saat ini. Sistem sekuler liberal yang mendominasi kehidupan modern telah membentuk cara pandang masyarakat yang semakin menjauh dari nilai-nilai agama. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Dalam paradigma ini, agama dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak perlu dijadikan dasar dalam mengatur kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, maupun politik. Akibatnya, nilai-nilai spiritual semakin tersisih dari kehidupan masyarakat.
Ketika agama tidak lagi menjadi landasan dalam kehidupan, manusia kehilangan arah dan tujuan hidup yang hakiki. Kesuksesan kemudian diukur semata-mata dari pencapaian materi, prestasi akademik, atau status sosial. Anak-anak sejak dini didorong untuk mengejar keberhasilan duniawi tanpa dibekali dengan kekuatan spiritual yang memadai.
Tekanan inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor munculnya gangguan kesehatan mental pada generasi muda. Mereka dituntut untuk berprestasi tinggi, bersaing dengan teman sebaya, dan memenuhi ekspektasi keluarga maupun masyarakat.
Di sisi lain, ketika menghadapi kegagalan atau masalah kehidupan, banyak anak tidak memiliki pegangan nilai yang kuat untuk menghadapinya. Tanpa fondasi spiritual yang kokoh, mereka mudah merasa putus asa dan kehilangan harapan.
Hegemoni Nilai Liberal melalui Media
Selain sistem sekuler, krisis kesehatan jiwa generasi juga dipengaruhi oleh derasnya arus nilai liberal yang menyebar melalui media dan budaya populer. Media massa, media sosial, film, musik, dan berbagai produk hiburan global sering kali mempromosikan gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Budaya individualisme, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas terus dipropagandakan sebagai simbol kemajuan dan modernitas. Anak-anak dan remaja yang mengonsumsi konten semacam ini secara terus-menerus dapat terpengaruh dalam cara berpikir dan berperilaku mereka.
Akibatnya, nilai-nilai Islam yang seharusnya menjadi pedoman hidup semakin tergerus. Konsep tanggung jawab, kesabaran, rasa syukur, dan ketakwaan kepada Allah tidak lagi menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika nilai-nilai spiritual melemah, manusia menjadi lebih rentan terhadap tekanan hidup. Masalah yang seharusnya dapat dihadapi dengan kesabaran dan keimanan justru berubah menjadi sumber keputusasaan yang mendalam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental generasi tidak hanya berkaitan dengan faktor psikologis, tetapi juga berkaitan dengan krisis nilai dalam masyarakat.
Pendidikan yang Kehilangan Arah
Pendidikan seharusnya menjadi sarana utama untuk membentuk generasi yang kuat secara intelektual, emosional, dan spiritual. Namun dalam sistem pendidikan sekuler saat ini, orientasi pendidikan lebih banyak diarahkan pada pencapaian akademik dan kompetisi dunia kerja.
Sekolah sering kali menekankan target nilai, ranking, dan prestasi akademik. Sementara pembentukan kepribadian yang berlandaskan iman dan takwa sering kali hanya menjadi pelengkap.
Akibatnya, banyak anak yang mengalami tekanan akademik yang berat. Mereka merasa bahwa nilai dan prestasi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Ketika gagal mencapai target tersebut, mereka merasa tidak berharga.
Di sisi lain, pendidikan keluarga juga mengalami tantangan besar. Banyak orang tua yang sibuk bekerja sehingga kurang memiliki waktu untuk membangun hubungan emosional yang kuat dengan anak. Konflik keluarga yang tinggi juga menunjukkan bahwa institusi keluarga sedang mengalami tekanan dalam sistem kehidupan modern.
Padahal keluarga merupakan tempat pertama dan bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang, bimbingan, serta pembentukan karakter.
Solusi Islam Khilafah dalam paradigma politik menawarkan pendekatan integral (keseluruhan) di mana sistem pendidikan, kesehatan, dan ekonomi diatur berdasarkan syariat Islam untuk mencapai tujuan maqashid al-syari'ah (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta).
Berikut adalah penjabaran solusi terintegrasi tersebut berdasarkan konsep Khilafah:
1. Sistem Pendidikan (Berbasis Akidah Islam)
Paradigma: Sistem pendidikan Khilafah bertujuan mencetak kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap) yang berasaskan akidah Islam.
Kurikulum: Disusun berdasarkan hukum-hukum syarak. Pendidikan tidak memisahkan kehidupan duniawi dan ukhrawi, melainkan menyatukan keduanya.
Tujuan: Membentuk generasi muslim yang taat syariat, memiliki pemahaman agama yang mendalam, sekaligus menguasai ilmu sains dan teknologi untuk memimpin dunia.
2. Sistem Ekonomi (Keadilan dan Distribusi)
Paradigma: Ekonomi berbasis syariah yang melarang riba, gharar, dan penimbunan harta. Menekankan pada pilar tauhid dan keadilan.
Pengelolaan: Sumber daya alam (pertambangan, energi) dikelola sebagai kepemilikan umum oleh negara, hasilnya didistribusikan untuk rakyat, bukan diprivatisasi.
Distribusi: Penerapan sistem mata uang berbasis emas dan perak (dinar-dirham) atau mata uang yang dijamin emas untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Kepemilikan: Mengatur kepemilikan individu, negara, dan umum secara tegas agar tidak terjadi kesenjangan ekstrem.
3. Sistem Kesehatan (Jaminan Negara dan Pelayanan Gratis)
Paradigma: Kesehatan dipandang sebagai kebutuhan dasar rakyat yang wajib dijamin penuh oleh negara.
Pembiayaan: Pelayanan kesehatan, pengobatan, dan rumah sakit dikelola langsung oleh negara (Baitul Mal) dan diberikan secara gratis atau terjangkau bagi seluruh penduduk (muslim maupun non-muslim).
Kualitas: Fokus pada pelayanan prima, profesional, dan cepat, serta pengembangan ilmu kedokteran yang maju.
Penerapan: Pemisahan fasilitas pria dan wanita serta aturan medis yang tidak melanggar hukum syarak.
Integrasi dalam Paradigma Politik
Ketiga sistem ini diikat oleh sistem pemerintahan (Khilafah) yang menjalankan siyasah syar'iyah (pengelolaan masalah umum negara) untuk menjamin kemaslahatan dan mencegah kemudharatan. Pemimpin (Khalifah) wajib memastikan seluruh kebijakan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan selaras dengan syariat Islam.
Wallahu alam bishowab.
Social Plugin