Ilustrasi Pinterest
Oleh Anin
MediaMuslim.my.id, Opini_ Kasus kekerasan yang melibatkan mahasiswa kembali mengejutkan publik. Seorang mahasiswi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau menjadi korban pembacokan oleh sesama mahasiswa saat sedang menunggu sidang proposal. Peristiwa ini terjadi di lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk belajar dan berkembang. Dilansir dari Metrotvnews, pelaku menyerang korban menggunakan senjata tajam hingga korban mengalami luka serius dan harus dirawat (Metrotvnews, 2026).
Kasus ini diduga bermula dari persoalan pribadi. Menurut laporan Kumparan, pelaku sakit hati setelah cintanya ditolak oleh korban ketika keduanya mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Penolakan tersebut memicu emosi yang tidak terkendali hingga berujung pada aksi kekerasan di lingkungan kampus (Kumparan, 2026). Fenomena ini terasa sangat dekat dengan realitas generasi muda saat ini, khususnya Gen Z yang hidup di tengah budaya hubungan yang sering kali serba cepat, emosional, dan kurang matang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pemuda tumbuh tanpa dasar kepribadian atau karakter yang kuat. Sistem pendidikan sekuler cenderung memfokuskan pada capaian akademik dan keterampilan, tetapi mengesampingkan pembentukan pola pikir dan pola sikap berbasis akidah. Agama diposisikan sebagai urusan privat, bukan kompas dalam setiap keputusan hidup. Akibatnya, kebebasan menjadi standar utama. Remaja didorong untuk “bebas memilih”, namun jarang dibimbing untuk memahami konsekuensi dari pilihannya.
Normalisasi pergaulan bebas pacaran tanpa batas, hubungan yang terbangun dari emosi, hingga hubungan yang tak dibingkai tanggung jawab syar’I membentuk generasi yang menjadikan perasaan sebagai pusat kebenaran. Padahal, perasaan tanpa kendali ibarat api kecil di dapur, jika dijaga, ia menghangatkan, jika dibiarkan, ia membakar seluruh rumah. Ketika cinta ditolak, yang muncul bukan kedewasaan, tetapi ego yang tersulut. Dari sinilah kekerasan menemukan celahnya.
Berbeda dengan konsep pendidikan Islam yang menjadikan akidah sebagai dasar pembentukan kepribadian. Tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan individu yang pintar, tetapi juga membentuk pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan nilai syariat, menyatunya antara pikiran dan hati. Generasi dididik untuk memahami batas halal dan haram, mengendalikan emosi, serta membangun tanggung jawab dalam setiap tindakan.
Selain itu, masyarakat dan lingkungan juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat dengan saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemaksiatan. Negara juga memiliki tanggung jawab untuk menegakkan aturan yang menjaga keamanan serta memberikan efek jera bagi pelaku kekerasan. Tanpa pembinaan yang menyeluruh, kasus seperti ini berisiko terus terulang.
Bagi Gen-Z, peristiwa ini seharusnya menjadi refleksi bahwa kedewasaan tidak hanya diukur dari pendidikan atau usia, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri dan menghormati orang lain. Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan dibangun oleh emosi yang meledak-ledak, tetapi oleh tanggung jawab dan nilai yang kuat.
Social Plugin