Ilustrasi Pinterest
Oleh : Shafa Lail, Mahasiswa, Ciparay Kab. Bandung
MediaMuslim.my.id, Opini_ Tidak ada perbaikan yang terjadi di wilayah Gaza. Hingga saat ini, kehancuran masih terlihat di setiap sudut wilayah tersebut. Kelaparan terus menghantui masyarakat Gaza, sementara ratusan ribu warga hidup di pengungsian yang tidak layak huni. Anak-anak Gaza pun sudah tidak lagi mendapatkan pendidikan formal yang memadai. Bantuan yang datang dari berbagai penjuru dunia belum mampu mengembalikan Gaza menjadi wilayah yang layak huni. Bahkan belum lama ini, banjir melanda daerah pengungsian dan menyebabkan menurunnya tingkat kesehatan masyarakat.
Segala bentuk kekerasan seperti pembunuhan, penembakan, dan penggusuran masih terus terjadi terhadap warga Palestina oleh tentara IDF maupun pemukim Israel. Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan adanya kejadian penembakan oleh tentara IDF terhadap dua pemuda Palestina. Tentara tersebut mengaku mencurigai adanya teroris yang mendekat dengan membawa bahan peledak. Akibatnya, satu korban tewas karena tertembak di bagian kepala (antaranews.com, 2026).
Selain itu, sebuah video CCTV memperlihatkan beberapa warga Israel membakar tenda pengungsian warga Gaza serta kendaraan mereka (cnnindonesia.com, 2026).
Di tengah situasi tersebut, wacana rekonstruksi Gaza mulai dicanangkan pada awal tahun 2026. Pencetusnya adalah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat saat ini. Ia membentuk organisasi bernama Board of Peace (BoP), yang salah satu komitenya adalah NCAG (National Committee for the Administration of Gaza). Badan ini beranggotakan 15 teknokrat Gaza dengan Ali Saath sebagai ketua komite.
Tujuan pembentukan NCAG adalah membangun dan menjaga stabilitas di Jalur Gaza. Komite ini akan mengawasi pemulihan layanan publik, pembangunan lembaga sipil, serta stabilisasi kehidupan sehari-hari masyarakat Gaza. Beberapa programnya antara lain pengadaan polisi Gaza untuk menjaga keamanan, membuka lapangan pekerjaan, memulihkan listrik dan air, serta memulihkan sektor pendidikan masyarakat. Komite ini juga direncanakan menjadi pengganti sementara Hamas sebagai pemimpin di Jalur Gaza (cnnindonesia.com, 2026).
Namun sebelum menyimpulkan bahwa langkah ini merupakan hal baik bagi Palestina, kita perlu mengingat kembali bahwa krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina berawal dari tindakan Israel. Negara Zionis tersebut berkali-kali melanggar perjanjian damai yang dibuat oleh lembaga dunia. Berbagai proposal perdamaian telah diajukan, namun berkali-kali pula Israel menolaknya. Zionis Israel pada dasarnya tidak menginginkan pembagian wilayah kekuasaan, melainkan ingin menguasai seluruh wilayah Palestina.
Karena itulah warga Palestina meragukan keputusan pembentukan NCAG, sebab komite tersebut bekerja di bawah organisasi Board of Peace yang dibentuk oleh Donald Trump. Banyak warga Palestina yang skeptis bahwa gagasan pemulihan Gaza benar-benar akan mengakhiri krisis kemanusiaan yang selama ini terjadi. Hal ini karena Amerika Serikat dikenal memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan Israel, baik dalam kebijakan politik maupun militer. Dukungan tersebut bahkan terlihat ketika Amerika Serikat menggunakan hak veto hingga puluhan kali untuk melindungi Israel dari berbagai resolusi yang menuntut gencatan senjata (mediaindonesia.com, 2025).
Jika ditelaah lebih jauh, penggunaan organisasi BoP justru dikhawatirkan menjadi alat legitimasi bagi pembersihan etnis, genosida, dan perampasan tanah Palestina. Alih-alih membangun kembali Palestina sebagai negara yang aman, langkah ini justru dikhawatirkan menjadi bagian dari upaya mengosongkan wilayah Palestina dan menjadikannya sepenuhnya sebagai wilayah Israel.
Ironisnya, sejumlah negara muslim saat ini menyatakan bergabung dengan BoP. Tercatat ada 12 negara muslim, yaitu Indonesia, Arab Saudi, Qatar, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kazakhstan, Maroko, dan Uzbekistan yang menjadi anggota BoP untuk mendukung program pemulihan Gaza melalui konsep New Gaza.
Disadari atau tidak, keterlibatan negara-negara muslim tersebut dapat menjadi legitimasi bagi Amerika Serikat untuk meyakinkan dunia bahwa organisasi ini benar-benar bertujuan membantu Gaza. Namun di balik itu, penggunaan nama negara-negara muslim tersebut justru berpotensi membuka jalan bagi Amerika Serikat dan Israel untuk mengambil alih Palestina secara penuh. Dengan demikian, pembentukan NCAG dikhawatirkan hanya menjadi upaya penyesatan opini publik, bukan benar-benar mewakili kepentingan rakyat Palestina.
Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
"Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik..."
(QS. Al-Maidah: 82)
Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan terhadap kaum muslimin merupakan realitas yang nyata. Meski demikian, perlu dipahami bahwa tidak semua individu dari suatu agama memiliki sikap yang sama. Namun ketika seseorang mendukung tindakan genosida dan penindasan terhadap suatu bangsa, maka sikap tersebut tidak dapat dibenarkan.
Saat ini Amerika Serikat tampak berada pada posisi yang sangat kuat dalam percaturan global. Dengan kekuatan politik, militer, dan ekonomi yang dimilikinya, negara tersebut seringkali dapat memengaruhi atau menekan negara lain agar mengikuti kepentingannya. Kondisi ini membuat banyak negara berkembang merasa terpaksa mengikuti arah kebijakan Amerika Serikat.
Allah Swt. juga berfirman:
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu.' Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan..."
(QS. Al-Maidah: 64)
Ayat tersebut menggambarkan bahwa kerusakan dan permusuhan di muka bumi seringkali muncul dari kesombongan manusia yang mengabaikan nilai-nilai kebenaran.
Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, masyarakat dunia dapat melihat secara langsung berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam maupun luar negeri. Berbagai konflik dan ketidakadilan yang terjadi menunjukkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi banyak krisis kemanusiaan.
Allah Swt. berfirman:
"Mereka adalah orang-orang yang menunggu-nunggu apa yang akan terjadi pada dirimu..."
(QS. An-Nisa: 141)
Ayat ini menjadi pengingat bagi kaum muslimin agar selalu waspada terhadap berbagai upaya yang dapat melemahkan umat.
Oleh karena itu, umat Islam perlu membuka mata terhadap berbagai realitas yang terjadi di dunia. Dukungan terhadap korban penindasan dan ketidakadilan harus terus diperjuangkan. Persatuan dan kepedulian umat menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Setiap umat Muslim memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan seluruh umat Islam di dunia bahwa penjajahan dan kejahatan yang dilakukan oleh Israel dan sekutunya, AS, terhadap Palestina tidak bisa dibiarkan lagi. Apalagi diputihkan hanya dengan BoP perdamaian ala Trump yang berasal dari kaum kafir yang tidak pernah senang melihat kaum Muslim bangkit dan bersatu.
Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu dalam naungan khilafah sebagai institusi tertinggi dan melawan penjajahan Israel serta membebaskan bumi Palestina dan negeri-negeri terjajah lainnya melalui aktivitas jihad fi sabilillah.
Untuk dapat membuka mata umat Muslim di seluruh dunia, kita harus mengikuti jejak Rasul dalam memperjuangkan tegaknya daulah khilafah di Madinah dengan melakukan pembinaan kepada para sahabat.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mengkaji Islam secara kaffah hingga kita memahami bahwa sesungguhnya agama Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki aturan yang sempurna dan paripurna dalam menyejahterakan seluruh umat manusia di seluruh penjuru bumi. Dengan demikian, umat dapat melihat bahaya pengkhianatan penguasa negeri-negeri Muslim ketika mereka lebih memilih bersekutu dengan BoP buatan AS (Trump) yang juga melibatkan Israel di dalamnya.
Wallahu a'lam bish shawwab.
Social Plugin