Pendidikan Tanggung Jawab Siapa?

Ilustrasi Pinterest
Oleh Annida K. Ummah
 (Tangerang) 



Media Muslim.my.id, Opini_ Sepucuk surat menjadi saksi bisu kepergian anak berinisial YRB (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, yang mengakhiri hidup diduga karena tak mampu membeli buku dan pena. Merespons tragedi ini, KPAI menggelar case conference bersama Kemendikdasmen hari ini (4/2/2026) untuk mendalami faktor ekonomi, pola asuh, hingga dugaan perundungan di lingkungan sekolah. Peristiwa meninggalnya korban pun diketahui pada Kamis (29/1/2026) pukul 11.00 WIB di dekat pondok milik neneknya. Di sebuah pohon cengkih, korban ditemukan tergantung oleh neneknya yang hendak mengikat kerbau. (Tirto.id, 4/2/26) 

YBS diduga bunuh diri lantaran tak mampu membeli buku dan pena. Ia putus asa dengan keadaan yang dialaminya, sebab saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000 ibunya menjawab tidak memiliki uang. Peristiwa memilukan ini dinilai menjadi tamparan keras bagi semua pihak dan harus menjadi perhatian serius agar tak terulang. (Kompas.com, 4/2/26)

Sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah sebesar Rp 1,2 juta. Diketahui, anak SD tersebut bersekolah di SD negeri. YBR dipungut uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun. Pembayaran dicicil selama setahun. (News.detik.com, 5/2/26)

Kasus anak SD di Nusa Tenggara Timur bunuh diri dinilai sebagai alarm keras bagi masyarakat kita. Sosiolog menyebut ada hal lebih gelap dari sekadar tidak punya uang sebagai penyebabnya. Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya Malang, Wida Ayu Puspitosari, Kamis (5/2/2026), berpendapat bahwa, bagi seorang anak di daerah tertinggal, buku dan pena adalah paspor untuk diterima di lingkungan sosialnya, yakni sekolah. Ketika negara gagal menyediakan fasilitas dasar, terjadi apa yang disebut sebagai kekerasan simbolik. (Kompas.id, 5/2/26)

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyoroti kasus anak Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) gantung diri. Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, menilai kasus tersebut menjadi atensi Kementerian Sosial. Pihaknya bersama pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan untuk kelompok tidak mampu, agar kejadian serupa tak terulang. (Liputan6.com, 4/2/26)

Adanya kasus bunuh diri anak menunjukkan bahwa hak dasar seluruh anak bangsa untuk mengenyam pendidikan gratis tidak dijamin sepenuhnya oleh negara. Beban biaya sekolah yang tidak terjangkau untuk rakyat miskin berdampak terjadinya bunuh diri anak. Negara lalai memelihara kebutuhan dasar rakyat miskin dan anak-anak terlantar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sistem pendidikan kapitalistik (serba uang) membebani masyarakat. 

Hak anak terkait pendidikan adalah tanggung jawab umum negara. Biaya pendidikan tidak boleh dibebankan pada orangtua. Negara seyogyanya menyediakan pendidikan gratis lagi berkualitas. Namun nampaknya hal ini menjadi masalah sulit bagi negara kapitalis untuk memprioritaskan pendidikan diatas yang lain. 

Dalam Islam, pendidikan wajib diberikan gratis oleh negara. Setelah negara menghadirkan pendidikan gratis nan berkualitas, Islam mengatur agar negara memberikan perlindungan dan keamanan anak dalam keluarga serta lingkungan sosial. Baik itu terkait pengasuhan, pendidikan, kontrol sosial, ataupun jaminan negara terhadap hak dasar. 

Dalam aturan Islam, pembiayaan pendidikan dipenuhi oleh baitul mal. Dimana harta milik umum negara yang bersumber dari pengelolaan sumber daya alam, disalurkan untuk kemaslahatan masyarakat. Misal untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dengan demikian pendidikan gratis dan berkualitas dapat terwujud. Tidak pernah dijumpai di masa kegemilangan Islam ada seorang anak yang bunuh diri dalam masa perkembangannya. Perjalanan sejarah menjelaskan setiap anak fokus belajar dalam masa perkembangannya semata untuk membekali diri menjadi pribadi yang diridai Allah SWT di masa balighnya. Hingga kelak setiap generasi berlomba menjadi yang terbaik dengan memberikan kontribusi maksimal untuk tersebarnya agama Allah SWT di muka bumi. 

Masalah bunuh diri siswa SD di masa kapitalis ini, menjadi PR semua elemen terutama negara. Karena negara adalah institusi utama yang berkontribusi besar terhadap laju pendidikan di negaranya. Satu nyawa melayang karena hal dasar yakni kehidupan kapitalis yang sulit ini. Ini adalah tanggungjawab negara. Wallahu a'lam bi Ash showwab[]