Menggali Solusi Islam Hadapi Krisis Mental dan Kemanusiaan.

Ilustrasi Pinterest
Oleh: Twinsrose


MediaMuslim.my.id, Opini_ Dunia pendidikan kita berduka setelah seorang siswa kelas IV SD di Ngada, NTT, berinisial YRB, ditemukan meninggal dunia dengan meninggalkan sepucuk surat pilu untuk ibunya. Bocah malang ini diduga nekat mengakhiri hidup karena terimpit beban ekonomi keluarga, bahkan hanya untuk sekadar memiliki buku dan pena. Tragedi ini menjadi tamparan keras bahwa di balik tembok sekolah, masih ada anak-anak yang berjuang sendirian melawan kemiskinan hingga kehilangan harapan untuk masa depan.

Merespons tragedi ini, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menegaskan bahwa Indonesia berada dalam kondisi darurat bunuh diri anak. Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa perlindungan nyawa dan kesehatan mental anak harus menjadi prioritas utama Negara kepada seluruh masyarakat agar kejadian serupa tidak terus berulang.(tirto.id.04/02/2026)

Kasus memilukan ini menjadi alarm keras bahwa perlindungan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat dan negara. Ketika seorang anak merasa mengakhiri hidup adalah satu-satunya jalan keluar, ada sistem kepedulian yang gagal berfungsi. Kita perlu meninjau kembali bagaimana akses pendidikan dan dukungan kesehatan mental diberikan kepada mereka yang paling rentan. 

Kehilangan nyawa seorang anak akibat keterbatasan alat tulis adalah bukti nyata bahwa fungsi pengawasan sosial dan perlindungan negara belum menyentuh akar permasalahan. Seharusnya, kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang bagi masa depan anak-anak di pelosok negeri. Kejadian ini mencerminkan adanya lubang besar dalam sistem kesejahteraan, di mana hak-hak dasar untuk belajar justru menjadi beban mental yang tak tertanggung bagi mereka yang paling terdampak. 

Selain urusan biaya, kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya peran orang-orang di sekitar dalam memperhatikan kondisi mental seorang anak. Sekolah dan lingkungan sosial seringkali kurang peka terhadap beban batin yang dipikul anak-anak dari keluarga kurang mampu. Anak yang tidak memiliki fasilitas belajar yang lengkap sangat rentan merasa rendah diri, apalagi jika mereka sampai menerima ejekan dari teman-temannya. Tanpa adanya sandaran emosional yang kuat, tekanan hidup yang seharusnya bisa diselesaikan bersama justru berubah menjadi rasa putus asa yang membuat anak merasa kehilangan harapan untuk hari esok.

Sebagai solusi mendasar, Islam memandang pendidikan bukan sekadar hak, melainkan kebutuhan dasar yang wajib dijamin sepenuhnya oleh negara. Negara memiliki tanggung jawab mutlak untuk menyediakan fasilitas belajar secara gratis dan berkualitas. Hal ini mencakup penyediaan buku, alat tulis, hingga sarana pendukung lainnya bagi setiap siswa tanpa memandang status ekonomi mereka. Dengan sistem administrasi yang fokus pada kemaslahatan rakyat, tidak boleh ada lagi anak yang merasa terbebani secara materi demi mendapatkan ilmu, sehingga tragedi keputusasaan akibat kemiskinan bisa dicegah sejak dini melalui jaminan pendidikan yang merata dan bermartabat.

Adapun dalil yang disabdakan oleh Rasulullah SAW melalui haditsnya yaitu, "Seorang pemimpin negara adalah ra’in (penggembala) dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya" (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dengan manajemen yang tulus untuk melayani, negara akan memastikan setiap anak dapat mengejar cita-citanya tanpa perlu merasa cemas atau terbebani oleh urusan biaya.

Perubahan besar harus dimulai dengan mengembalikan fungsi negara dan masyarakat sebagai pelindung sejati, yang memastikan setiap nyawa dihargai dan setiap kebutuhan belajar terpenuhi tanpa syarat. Melalui penerapan sistem pendidikan yang beralaskan keadilan serta kepedulian sosial yang tulus, kita dapat memutus rantai keputusasaan ini. Harapannya, tidak ada lagi masa depan yang padam hanya karena ketiadaan pena, demi mewujudkan generasi yang terjaga jiwanya sesuai tuntunan syariat di dalam islam.

Wallahualam Biishowab. 

Jazakillah khair.