Mendukung Kezaliman, Menjauhkan Keberkahan

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah



MediaMuslim.my.id, Opini_ Ketika Hati Kita Mulai Terbiasa
Ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari. Bukan ketika kita marah melihat kezaliman. Bukan ketika kita sedih menyaksikan kehancuran. Tetapi ketika hati mulai terbiasa.

Ketika berita tentang perang terasa biasa. Ketika sanksi ekonomi yang melumpuhkan rakyat sipil terdengar seperti angka statistik. Ketika penghancuran sebuah negeri dipahami sebagai “strategi global”. Di titik itu, bukan hanya dunia yang sedang berubah. Hati kita pun sedang diuji.
Karena Islam tidak hanya berbicara tentang tindakan.
Islam menjaga arah hati.

Allah ﷻ mengingatkan dengan sangat tegas:
وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ
Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka…”
(QS Hud [11]: 113)

Bukan membantu. Bukan membela. Cenderung saja sudah diperingatkan keras. Mengapa? Karena kecenderungan hati adalah awal dari keberpihakan. Dan keberpihakan menentukan posisi kita di hadapan Allah.

1. Wahyu Mengawali Perlawanan terhadap Kezaliman
Kezaliman dalam Islam bukan sekadar ketidakadilan sosial.
Zhulm adalah penyimpangan dari ketentuan Allah.
Ia terjadi ketika kekuatan berjalan tanpa petunjuk wahyu.
Allah ﷻ menegaskan:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS al-Maidah [5]: 45)

Ketika hukum Allah disingkirkan, maka kepentingan menjadi kompas. Dan ketika kepentingan menjadi kompas,
yang kuat akan selalu menang. Di situlah lahir imperialisme, dominasi, standar ganda, dan penghancuran bangsa-bangsa lemah.

2. Realitas Global dan Pola yang Berulang
Hari ini kita menyaksikan bagaimana kekuatan besar dunia berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia.
Namun sejarah mencatat:
Vietnam, Irak, Afganistan, Libya. Invasi, sanksi, rekayasa politik, kehancuran sosial. Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia pola yang berulang. Allah ﷻ berfirman:
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
(QS Ali Imran [3]: 57)
Masalahnya bukan hanya satu kebijakan. Masalahnya adalah sistem global yang menjadikan kekuatan sebagai standar kebenaran. Selama kekuasaan tidak tunduk kepada wahyu, selama hisab akhirat tidak menjadi pertimbangan, kezaliman akan terus menemukan bentuknya.

3. Mengapa Dunia Terasa Tak Berdaya?
Kezaliman bertahan karena dua sebab:
Pertama, yang kuat tidak tunduk kepada wahyu.
Kedua, yang lemah kehilangan kesadaran ideologisnya.
Umat yang kehilangan visi peradaban akan mudah terpesona oleh narasi kekuatan. Akhirnya bukan melawan, tetapi mengagumi. Bukan mengkritisi, tetapi membenarkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi.”
Para sahabat bertanya: “Bagaimana menolong yang zalim?” Beliau menjawab: “Dengan mencegahnya dari kezalimannya.”
(HR Bukhari)
Inilah prinsip perlawanan dalam Islam.
Bukan anarki. Bukan kebencian buta. Tetapi keberpihakan sadar terhadap keadilan berbasis wahyu.

4. Kezaliman, Allah cegah dengan Larangan
Allah menyampaikan peringatan dalam surat Hud ayat 113:
وَلَا تَرۡكَنُوا إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا
Condong saja sudah dilarang. Apalagi membela, membenarkan, atau memberi legitimasi terhadap kezaliman.

Kita perlu jujur pada diri sendiri. Jangan sampai tanpa sadar kita memberi ruang bagi kezaliman dengan sikap diam atau pembenaran. Allah sudah menunjukkan sikap yang harus dilakukan. Petunjuknya berupa larangan tegas atau pengharaman mendukung kezaliman. Larangan yang akan menjauhkan kita dari membenarkan dominasi  menindas bangsa lemah. Larangan menggantungkan harapan kepada kekuatan yang tidak tunduk kepada Allah.
Karena dukungan, sekecil apa pun, adalah energi bagi keberlangsungan kezaliman. Dan keberpihakan kepada zalim menjauhkan keberkahan.

5. Kemuliaan Lahir dari Ketundukan kepada Wahyu
Sejarah Islam membuktikan, kebangkitan tidak lahir dari kemarahan kosong. Ia lahir dari iman yang matang.
Badar adalah kemenangan iman atas rasa takut.
Shalahuddin lahir dari generasi yang dibina oleh akidah.
Allah ﷻ berfirman:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
Kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.”
(QS al-Munafiqun [63]: 8)
Kemuliaan tidak diberikan kepada umat yang condong kepada kekuatan zalim.
Kemuliaan diberikan kepada umat yang berdiri di atas wahyu.

Kita semua sedang berhijrah. Kita belajar shalat lebih khusyuk. Kita belajar menjaga lisan. Kita memperbaiki diri.
Namun hijrah tidak berhenti pada akhlak personal.
Hijrah juga berarti berpindah dari cara pandang dunia yang mengikuti arus, menuju cara pandang yang dituntun wahyu

6. Menuju Solusi yang Lebih Besar
Kezaliman global tidak cukup dijawab dengan kecaman.
Ia membutuhkan kekuatan yang terorganisir dan tunduk kepada syariat. Allah ﷻ memerintahkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
(QS Ali Imran [3]: 103)

Tanpa persatuan politik dan kepemimpinan yang berlandaskan wahyu, umat akan terus menjadi objek permainan geopolitik. Dengan persatuan, umat memiliki daya tangkal. Dengan kepemimpinan yang adil, dunia mengenal keamanan.

Di Mana Kita Berdiri?

Mungkin selama ini kita merasa lelah tanpa tahu sebabnya. Mungkin kita merasa dunia tidak adil, tapi tidak bisa menjelaskannya. Islam tidak hanya menenangkan hati. Ia menjelaskan akar kegelisahan itu. Ini adalah ujian keimanan.

Ini sedang menguji arah hati kita. Menguji keberanian kita.
Menguji keberpihakan kita. Apakah kita ikut menormalisasi? Ataukah kita menjaga hati agar tetap bersama wahyu? Keberkahan tidak lahir dari kekuatan dunia. Keberkahan lahir dari ketaatan.

Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak condong kepada yang zalim, menyalakan keberanian untuk membela yang tertindas, dan menjadikan kita bagian dari kebangkitan yang diridhai-Nya.

Wallâhu a’lam bi shshhawâb.