Kamuflase Dewan Perdamaian

Ilustrasi Pinterest
Oleh : Nurjihaan 
(Aktivis Muslimah)



MediaMuslim.my.id, Opini_ Bumi Palestina yang penuh berkah, hingga saat ini masih dijajah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh umat Islam demi pembebasan Baitul Maqdis, namun tidak ada yang benar-benar mengusir para penjajah dari tanah para nabi tersebut. Rakyat Indonesia telah banyak melakukan donasi untuk Palestina dan pemboikotan produk Israel. Namun terkhianati oleh orang nomor 1 di negeri ini yang bergabung dengan Board of Peace buatan Amerika Serikat.

Board of Peace (BoP)  atau Dewan Perdamaian adalah organisasi yang di bentuk oleh Donald Trump untuk menciptakan perdamaian di Palestina . Donald Trump mengajak banyak negara lain untuk bergabung menjadi anggota dewan ini. Namun untuk menjadi anggota tetap, diharuskan membayar biaya sebesar US$1 miliar (sekitar Rp16,9 triliun). 

Banyak negar-negara yang ikut bergabung BoP untuk mendukung upaya perdamaian di Palestina, gencatan senjata permanen, serta rekontruksi Gaza. Tidak hanya menangani konflik di Gaza, dewan ini juga akan diperluas untuk menangani konflik lain dengan Trump sebagai pemimpin seumur hidup, meski ia tidak lagi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. (bbc.com, 22 Januari 2026).

Donald Trump ingin mewujudkan perdamaian dan membangun kembali Gaza yang telah luluh lantak akibat serangan penjajah Israel. Namun Palestina tidak dilibatkan dalam membangun kembali negerinya. Justru dewan ini melibatkan penjajah Palestina sendiri yakni Israel. 

Tak lama dewan ini dibentuk, Israel kembali menyerang Gaza dengan membombardir Gaza. Jangankan membangun kembali Gaza, menghentikan perbuatan keji Israel saja dewan ini tak mampu. Iuran dari negara-negara yang ikut bergabung dengan dewan ini, benarkah untuk membangun kembali Gaza atau digunakan untuk membantu Israel?.

Dikutip dari bbc.com tanggal 23 Januari 2026, Pemerintah Amerika Serikat berencana membangun Gaza Baru. Amerika Serikat akan membangun puluhan gedung pencakar langit, yang membentang di sepanjang pantai dan bekas perumahan di kawasan Rafah yang telah hancur.

Namun setelah semua itu dibangun, siapakah yang akan menempati gedung-gedung dan apartemen tersebut? Benarkah semua ini demi membantu kesejahteraan rakyat Gaza? Atau hanya demi kepentingan geopolitik dan ekonomi Amerika saja?. Jika memang benar Amerika mmpunyai niat baik terhadap Palestina, seharusnya sudah dari dulu ia tidak menggunakan hak veto dalam sidang PBB untuk membela Israel. Hal ini pun tidak hanya dilakukan sekali, namun sudah berkali-kali Amerika menggunakan hak vetonya. 

Adrianus Harsawaskita, dosen Kebijakan Luar Negeri di Universitas Katolik Parahyangan, berpendapat bahwa BoP dibentuk untuk kepentingan Trump. "Kalau saya melihatnya ini bukan kepentingan orang-orang Palestina atau orang Gaza," katanya. Ia juga menambahkan bahwa BoP ini merupakan kepentingan real-estate-nya Trump. (abc.net.au/ 30 Januari 2026).

Sangat jelas terlihat bahwa Amerika hanya ingin mewujudkan kepentingannya dengan mengajak berbagai negara bergabung dalam rencananya tersebut. Tentunya proyek ini membutuhkan uang yang tidak sedikit, oleh karena itu adanya iuran bagi negara yang ikut bergabung demi mempercepat terwujudnya keinginan Trump. 

Pembebasan Palestina hanya bisa terwujud jika Zionist Israel pergi dari Palestina. Bagaimana mungkin mewujudkan perdamaian dengan melibatkan penjajah itu sendiri?. Trump hanya ingin menguasai Gaza dan mengusir penduduk Gaza. Inilah penjajahan gaya baru, melakukan tipu daya di balik kata "perdamaian". 

Dan merupakan suatu pengkhianatan bagi rakyat Palestina atas bergabungnya negeri-negeri muslim dalam BoP. Alih-alih bersatu untuk mengusir penjajah Israel dari bumi Palestina, mereka lebih memilih bersatu dengan penjajah Palestina. Sudah seharusnya pemimpin negeri muslim tahu bahwa Allah melarang bersekutu dengan negara kafir yang terang-terangan memerangi umat Islam.

Tidak ada cara lain mengusir penjajah selain dengan jihad. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an, Surah An-nisa ayat 75, "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas…". Namun jihad ini hanya bisa terealisasikan jika umat Islam bersatu. Sudah waktunya umat Islam sadar akan bahayanya garis nasionalisme yang telah mencerai-beraikan umat Islam. Persatuan merupakan agenda utama umat Islam saat ini. 

Dengan persatuan, penjajahan di dunia akan mudah dihapuskan, bumi Palestina akan terbebas dari kekejian Israel, dan Baitul Maqdispun akan mudah untuk dikunjungi oleh umat Islam.
Wallahu a'lam bishashawab.