Ilustrasi Design and Art
Oleh Anin
MediaMuslim.my.id, Opini_ Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai solusi strategis untuk menyelamatkan generasi dari ancaman stunting dan kekurangan gizi. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan ironi yang menyakitkan. Alih-alih menjadi penopang kesehatan anak bangsa, MBG berulang kali berubah menjadi sumber petaka. Sepanjang Januari 2026, lebih dari seribu orang dilaporkan menjadi korban dugaan keracunan MBG. Bahkan hingga akhir bulan, kasus serupa masih terus bermunculan di berbagai daerah.
Rentetan peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan sinyal kuat kegagalan sistemik. Kasus keracunan massal di Kudus, Grobogan, hingga Tomohon memperlihatkan lemahnya standar keamanan pangan dan buruknya pengawasan distribusi. Makanan yang seharusnya menopang tumbuh kembang peserta didik justru mengancam keselamatan mereka. Dalam kondisi ini, wajar jika publik mempertanyakan Kembali, sebenarnya sejauh mana negara benar-benar serius menjamin gizi generasi?
Lebih mengkhawatirkan lagi, MBG didukung oleh anggaran negara yang terus melonjak drastis. Sayangnya, besarnya dana tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas pelaksanaan di lapangan. Jurang antara tujuan baik mencegah stunting dan memperbaiki gizi anak dengan realitas implementasi semakin tidak masuk akal. MBG tampak lebih berorientasi pada pencapaian proyek dan serapan anggaran ketimbang pada kesejahteraan nyata rakyat. Distribusi makanan dijadikan fokus utama, sementara akar persoalan gizi generasi dibiarkan tak tersentuh.
Padahal, masalah gizi buruk tidak lahir dari ketiadaan program bagi-bagi makanan semata. Ia berakar pada kemiskinan struktural, rendahnya daya beli, dan timpangnya akses terhadap kebutuhan pokok semua merupakan buah dari sistem kapitalisme yang mengabaikan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Pendekatan tambal sulam seperti MBG tidak akan pernah menyelesaikan masalah secara fundamental.
Berbeda halnya jika negara bertindak sebagai raa’in wa junnah pengurus dan pelindung rakyat sebagaimana konsep dalam Islam kaffah. Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu, membuka lapangan kerja luas dengan upah layak, serta memastikan distribusi pangan berkualitas dan terjangkau hingga pelosok negeri. Tak hanya itu, layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan juga harus diberikan secara gratis dan optimal.
Selama pemikiran kapitalisme masih menjadi pijakan kebijakan, program seperti MBG akan terus berisiko gagal. Generasi dijanjikan gizi, tetapi yang dihidangkan justru bahaya. Sudah saatnya negara berbenah secara mendasar, bukan sekadar menambal luka.
Social Plugin