Ilustrasi Pinterest.com
Oleh Lulu Nugroho
Mediamuslim.my.id, Opini_ Setiap kita memiliki catatan amal salih yang tertulis di sepanjang kehidupan. Tak hanya kebaikan, aktivitas salah atau keburukan yang telah kita perbuat pun, tercatat di sana. Dan kelak di hari perhitungan (yaumul hisab) catatan itu akan terbuka dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karenanya kita tak boleh berbangga diri dan mencukupkan pada satu jenis kebaikan yang telah kita lakukan. Kita harus terus khawatir terhadap catatan tersebut, pun harus memastikan bahwa perilaku kita senantiasa bersandar pada perintah dan larangan-Nya. Sebab bila bergeser menyelisihi-Nya, maka manusia akan celaka terlibas amal buruknya sendiri.
Fenomena yang terjadi hari ini sungguh sangat mengerikan, saat sebuah file terbuka di khalayak umum, netizen sontak terperangah dibuatnya. Media sosial pun dipenuhi berita serupa. Namun tetap kita perlu cermati melalui paradigma Islam, bahwasanya tak satupun yang luput dari hadapan Allah, meski hanya sebiji zarah. Ada pengadilan Allah yang kelak menuntut para pelaku kemungkaran.
File Epstein membuka kedok kapital yang selama ini tampil manis di hadapan publik. Tetapi tentu tak ada yang mampu menghakiminya. Tidak ada polisi atau mahkamah internasional, yang akan menyelidiki perkara dan menghukum yang bersalah. Juga tak ada standar yang akan mengkategorikan perbuatan benar atau salah. Hari ini semua hal menjadi rancu dan bias, akibat sekularisme yang menegasikan peran Allah. Hingga file ini pun hanya sekadar info biasa dan akhirnya akan dilupakan orang.
File adalah kumpulan informasi atau data yang saling berhubungan dan disimpan di dalam folder (direktori), media penyimpanan sekunder (seperti hard disk, flashdisk, atau cloud storage), dan sistem berkas komputer.
Kalau kita bicara File Epstein atau kasus besar serupa, sejatinya bukan hanya sebuah skandal, melainkan hakikat amal manusia yang tidak mungkin bisa benar-benar tersembunyi. Islam menegaskan: setiap manusia punya catatan hidup, bahkan lebih rinci dari arsip manapun. Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya bagi kalian ada para pencatat, yang mulia dan selalu mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(QS Al-Infithar: 10–12)
Artinya, tidak hanya perbuatan besar, tetapi yang kecil, disembunyikan, ditutup-tutupi, atau dilindungi kekuasaan pun kelak akan terbuka ketika Allah menghendakinya. Di dunia manusia bisa saja menyembunyikan file, tetapi di hadapan Allah tidak ada classified atau sealed document. Sebab ada malaikat yang pasti akan mencatat perbuatan kita tanpa luput sedikit pun.
Maka dari sini bisa kita pahami bahwa file manusia bisa bocor sewaktu-waktu. Keburukan bisa tertutup lama, tapi tidak selamanya. Dalam Islam, bisa jadi aib seseorang tidak terbuka di dunia, tapi pasti terbuka di akhirat dan tentu hal ini sangat mengerikan. Allah berfirman:
“Pada hari itu manusia diberitakan tentang apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.”
(QS Al-Qiyamah: 13).
Dunia bukan tempat keadilan sempurna, ada akhirat tempat membuka seluruh arsip. Apalagi ketika peran manusia tersebut adalah sebagai penguasa. Maka tentu ada tanggung jawab yang lebih besar terhadap amanah kepemimpinan yang melekat di pundaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh akan datang suatu kaum pada hari kiamat dengan pahala seperti gunung Tihamah, namun Allah menjadikannya debu.”
Mereka adalah orang-orang yang ketika sendirian, berani melanggar larangan Allah. (HR Ibnu Majah)
Kekuasaan, uang, prestise, reputasi, jaringan, tak akan menyelamatkan manusia dari catatan akhirat. Maka perlu ada aktivitas menasehati bagi sesama muslim, amr ma'ruf nahy munkar, muhasabah lil hukam, agar setiap insan terutama penguasa, selalu berpijak pada hukum Allah. Kita pun mampu berdiri di hadapan Allah dengan hujah yang baik. Umar bin Khattab ra. berkata, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
Social Plugin