Board of Peace, Ilusi Kedamaian

Ilustrasi Wikipedia
Oleh Annida K. Ummah 
(Tangerang)



MediaMuslim.my.id, Opini_ Pada bulan ini ramai diinfokan terkait perdamaian Gaza. Yakni berupa gencatan senjata dan Board of Peace.

Board of Peace (bahasa Inggris: Board of Peace , bahasa Indonesia: Dewan Perdamaian) adalah badan pengawas multilateral yang dibentuk pada 15 Januari 2026 untuk mengawasi pelaksanaan Rencana Perdamaian Gaza dan Resolusi 2803 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pemerintah Indonesia berkomitmen dalam upaya perdamaian Palestina melalui keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP)/Dewan Perdamaian, sebuah badan internasional yang dibentuk untuk mengawal stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza. Penegasan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dalam keteranganya di Bad Ragaz, Swiss, pada Jumat, 23 Januari 2026, usai Presiden Prabowo Subianto menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos. (Setkab.go.id, 23/1/26)

Koalisi menilai BoP bentukan Presiden Trump tidak punya kerangka perdamaian yang jelas, justru memperkuat dominasi AS dan Israel atas Palestina, bertentangan dengan resolusi PBB, serta membuat keikutsertaan Indonesia menyimpang dari amanat Alinea Pertama Pembukaan UUD 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan. (Hukumonline.com, 10/2/26)

Hal ini karena, meski menyetujui gencatan senjata dan bergabung dalam Board of Peace, namun pada kenyataannya Israel masih melakukan serangan ke Gaza, Palestina. Serangan udara Israel menghantam sebuah kamp di kawasan Khan Younis, Gaza. Dilaporkan sedikitnya 21 orang tewas, termasuk enam anak dan seorang bayi berusia 5 bulan. Militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan Jalur Gaza, Palestina, pada Rabu (4/2). Imbas serangan Israel 23 orang termasuk anak-anak tewas. (CNNIndonesia, 5/2/26)

Dunia bersikap naif karena percaya pada janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Padahal fakta yang terjadi justru Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian. Gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS-Israel untuk melanggengkan penjajahan di Palestina. Meski demikian, penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel. Alasannya untuk menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin meluas. Hingga mereka, negeri-negeri muslim, rela bergabung dalam BoP. BoP jelas ilusi kedamaian Palestina. 

Umat Islam harus tegas alias zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS-Israel. Ketegasan negeri-negeri muslim harus diinisiasi oleh kesatuan umat dalam berpolitik. Ini menunjukkan pentingnya kehadiran seorang pemimpin (khalifah) yang akan bersikap tegas dan zero toleran terhadap musuh Islam yang nyata, AS-Israel. Sebab AS-Israel tidak bisa diajak berdamai dengan perjanjian, melainkan mereka hanya bisa diajak berdamai dengan pedang.

Kehadiran khalifah sebagai pemimpin umat Islam secara global akan melawan hegemoni penjajah kafir dengan nyata, tegas, dan berani. Seperti pesona ketegasan Rasulullah SAW selaku khalifah pertama yang mengusir Yahudi dari wilayah khilafah Islam Madinah Al-Munawwaroh karena berkhianat. Atau seperti pesona ketegasan khalifah yang terakhir, Sultan Abdul Hamid II di khilafah Utsmaniyah Turki, yang menolak menjual tanah Palestina dengan bayaran segunung emas. Hal ini semata karena para khalifah meyakini kesatuan umat dan tanah negeri-negeri muslim sangat berharga, sehingga tiada duanya. Para khalifah dan umat Islam terdahulu rela bertaruh nyawa hanya untuk menyelamatkan sejengkal tanah negeri muslim atau melindungi kehormatan seorang muslim.

Kehadiran khalifah nyata akan mampu bersikap tegas terhadap para penjajah kafir. Semangat jihad dan mengharap rida Allah SWT akan menghapuskan para penjajah dari tanah negeri-negeri muslim. Saatnya kita merindu untuk hadirnya seorang khalifah dalam khilafah Islamiyah. Wallahu a'lam bi Ash showwab[]