Meneladani Nabi saw. Sepanjang Masa

Oleh Ummu Ghoza

Momen meneladani Nabi Muhammad saw. biasanya lebih terasa saat bulan Rabiul Awal. Padahal, meneladani Rasulullah saw. sejatinya harus dilakukan sepanjang masa. Ini harus menjadi panggilan mendalam bagi seluruh umat Islam untuk kembali mengenang, meneladani, dan melangkah di atas jejak perjuangan yang beliau bawa sepanjang hidupnya. 

Kementerian Agama pun menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak mulia Rasulullah, yang kemudian diwujudkan dalam sikap jujur, amanah, sabar, santun, dan penuh kepedulian terhadap sesama manusia. Nilai-nilai keteladanan ini tetap sangat relevan dan sangat dibutuhkan di tengah tantangan kehidupan masa kini, tak terkecuali dalam cara kita berkomunikasi maupun bermedia sosial, di mana akhlak Rasulullah senantiasa menjadi cahaya yang menuntun pada kebaikan. (rri.co.id, 22/8/2026).

Kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ seharusnya tidak hanya terwujud dalam lantunan selawat dan air mata haru, melainkan harus melahirkan keterikatan yang utuh kepada risalah serta metode perjuangan yang beliau bawa. Sayangnya, pembahasan tentang keteladanan atau ittiba' kepada Nabi ﷺ kerap terbatas pada aspek akhlak pribadi, dan belum menyentuh kesadaran untuk mengubah tatanan kehidupan yang masih berlandaskan sistem jahiliyah—yakni penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu—menuju sistem Islam yang seutuhnya menegakkan penghambaan hanya kepada Allah Swt. Padahal, tuntutan untuk kembali kepada ajaran Islam secara kaffah sesungguhnya telah tumbuh di kalangan umat, namun arah serta metode yang diambil saat ini masih sangat jauh dari metode perjuangan yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

Kini, umat Islam hidup di tengah sistem kehidupan yang berlandaskan demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme, di mana orientasi hidup lebih banyak diarahkan pada kekayaan duniawi dan pemenuhan hawa nafsu. Sistem-sistem ini berjalan secara sistemik dan terus berupaya mempertahankan eksistensinya, sehingga tak heran jika suara-suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan tatanan menuju jalan Allah Swt. kerap kali dihalangi. 

Di sinilah letak pentingnya meneladani metode perjuangan Rasulullah ﷺ, yang beliau tempuh melalui tiga tahapan atau marhalah yang berjalan runtut dan berkesinambungan. Tahap pertama adalah tatsqif, yaitu tahap pembentukan kesadaran dan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam kepada individu-individu yang kelak menjadi pendukung dakwah, sehingga tumbuh keyakinan yang kokoh dan kesiapan untuk berjuang di jalan Allah. Tahap kedua adalah tafa'ul ma'al ummah, yaitu tahap berinteraksi dan membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat luas, menyampaikan kebenaran Islam, dan mengajak umat untuk kembali kepada syariat Allah secara menyeluruh. Sedangkan tahap ketiga adalah istilamul hukmi, yaitu tahap penerimaan kekuasaan dan tegaknya sistem pemerintahan Islam yang menegakkan keadilan di bawah naungan syariat yang sempurna.

Dengan mengikuti metode perjuangan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ inilah, ajaran Islam akan tegak kembali di tengah kehidupan masyarakat. Islam benar-benar hadir sebagai rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana janji Allah Swt. dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 107. 

Oleh karenanya saatnya mengikuti Nabi saw. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 31: "Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." 

Maka, meneladani Nabi saw. hendaknya bukan sekadar menambah kebiasaan ritual semata, melainkan menjadi titik awal kesadaran baru bagi seluruh umat untuk mencintai Rasulullah ﷺ dengan cara yang sesungguhnya, yaitu dengan mengikuti seluruh ajarannya, memperjuangkan tegaknya syariat Allah melalui metode yang beliau ajarkan, dan berupaya mewujudkan sistem kepemimpinan Islam Khilafah sebagai bentuk ketaatan kita yang nyata kepada Allah dan Rasul-Nya. Waallahu'alam bisshoab.